“sisir!
Mana sisir??!!”
Pagi itu
gusar. Aku kebingungan mencari sisir yang jarang sekali kupakai seumur hidupku.
Kenapa? Karena pagi ini aku menerima orientasi SMA,
kalangan anak keren biasa memanggilnya MOS, bukan dari domestos noMOS. Para
siswa baru khususnya yang memiliki batang di antara selangkangan, diwajibkan
untuk membelah tengah rambut mereka. Rambut panjang ataupun pendek. Rambut
cepak cukup membelah tengah kepalanya saja.
Untuk membelah rambutku yang memiliki panjang medium,
seonggok gatsby kupakai hingga rambutku mampu terbelah layaknya laut teberau.
Disusul pencarian sisir yang menggusarkan keadaan
rumah pagi itu.
Untungnya sisir
tersebut mudah didapat, tersembunyi didalam laci kecil di lemari kamar yang
tersegel dengan mantera penyegel tujuh musim, dan tak dapat dilihat dengan mata
telanjang. Sisir yang sangat kuat sehingga tiap elusan dari sisir tersebut,
mampu membuatku terdiam menggelinjang nikmat.
==
Sesampainya di depan
sekolah, terdapat bermacam – macam grup remaja alay yang tak mampu memasuki
sekolah. Mereka hanya diam. Duduk di depan gerbang sekolah. Mereka terlihat
lesu tak bisa memasuki sekolah.
“ya iyalah mangkal di depan.
Orang gerbang nya aja gak dibuka.” Kataku sambil menepuk jidat.
Aku memerhatikan tiap grup
remaja yang ada disana.
Beberapa dari mereka ada
yang berkumpul dengan canggung.
Ada yang berkumpul latihan
pasang muka sangar.
Ada yang bahkan hanya
berdiri, melotot, dan bingung. Untungnya tidak mengangkang.
Dan yang terakhir ada grup
terbesar, sekitar 75% siswa berkumpul di situ.
Aku pun melangkah maju ke
grup yang paling besar tersebut. Melangkah pasti tanpa ada keraguan sedikitpun.
Mereka adalah makhluk – makhluk yang sudah kukenal sejak SMP.
Sekolah ku memiliki TK, SD ,
SMP , SMA hingga STIE dibawah nama satu yayasan. Aku sudah bersekolah disitu
sejak SD, beberapa dari temanku bahkan ada yang sudah disitu sejak TK. Jadi
sebagian besar dari mereka bukanlah orang asing bagiku.
“OI! Din! DINOO sini! “
teriak satu siswa dari grup tersebut.
“tono, loh kok lu lagi disini?”
balasku.
“lah elu, katanya masuk SMA
XX” tanya Rudy
“ah males, tes nya ribet.
Kok lu lagi sih? Bosen gue liat muka lu” jawab ku meriang.
“yadisini aja! Mo kemana
lagi nyet?” balas Rudy dan Tono
“kenapa gak SMA seven aja
lo?” tanya Tono ke Rudy
“mau gua jadi kenek angkot
lo?” balas Rudy
“ya iya, kan mukalu dibawah
garis kemiskinan” tambah ku.
“ah gimana sih. Lu lagi, lu
lagi , lu lagi. Nanti lu pada mau dikubur disebelah sekolah ya?” tanya teriak
Ivan ketika melihat kita berbincang.
“lah, kan udah sedia kapling
di belakang SD van” balasku
“eh mulutlu boker kuda. Eh
eh Dino, liat cewek itu gak? Mirip banget sama Reva ya?”
Bisik ivan kepadaku.
Reva adalah gadis manis yang
duduk sebangku denganku semasa kelas 9, dia adalah salah satu teman baikku kala
itu. Reva senang memakai contact lens. Katanya,
itu lebih baik daripada dia memakai kacamata. Lensanya pun bervariasi tapi
biasanya, bening dan abu – abu yang sering Reva pakai. Aku selalu memaksanya
untuk memakai lensa berwarna merah supaya aku bisa mengaku berteman dengan klan
uchiha.
Sayangnya, dia memilih SMA
yang lain. Impianku untuk mengaku sebagai teman klan uchiha kandas di tengah
jalan.
Gadis itu memiliki gaya
rambut yang sama, dan aura yang mirip. Hanya saja cara berjalan mereka berbeda.
“loh kok bisa mirip? Tapi
sayang…” keluh ku.
“kenapa” tanya makhluk –
makhluk astral disekitarku.
“rok nya kepanjangan. Batin
gue menangis liat rok dan kemeja yang gak gemesin” crying in latin.
“iya. Sukma gue juga
tercabik – cabik” tambah Rudy.
“sukma? Loh bukannya sukma
banyak pas ramadhan?” tanya ku penasaran.
“itu KURMA! KURMAAAA!”
teriak mereka menggelinjang.
Tanpa sadar, ternyata
gerbang telah terbuka. Siswa baru pun berlomba – lomba memasukki gerbang agar
tidak kena hukuman alay. Ada yang berlari normal, ada yang berjalan santai,
beberapa merangkak bersama, sebagian berjalan dengan mulut, bahkan ngesot.
Hanya untuk melewati MOS
yang seperti biasa. Ketika MOS tersebut, kami dibagi kelas sementara
berdasarkan urutan abjad nama. Aku mendapatkan kelas A waktu itu.
Kakak – kakak kelas menyuruh
untuk memperkenalkan diri dengan nama dan hobi. Kami pun melakukannya. Satu
demi satu memperkenalkan diri dan hobi mereka masing- masing. Ada yang mengaku
hobi menggambar, namun ketika disuruh untuk menggambar naga di depan, dia
menggambar bulatan kecil.
Itu telur naga katanya.
Tunggu seminggu itu akan
menetas katanya.
Mendengar itu, beberapa dari
kami mulai berencana untuk gantung diri.
Hingga akhirnya tiba giliran
seorang gadis.
Dia berdiri…
0 comments:
Post a Comment