Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Saturday, 27 December 2014

Bundar Tak Bersisi

08:09 Posted by Unknown No comments
“sisir! Mana sisir??!!”

Pagi itu gusar. Aku kebingungan mencari sisir yang jarang sekali kupakai seumur hidupku.
Kenapa? Karena pagi ini aku menerima orientasi SMA, kalangan anak keren biasa memanggilnya MOS, bukan dari domestos noMOS. Para siswa baru khususnya yang memiliki batang di antara selangkangan, diwajibkan untuk membelah tengah rambut mereka. Rambut panjang ataupun pendek. Rambut cepak cukup membelah tengah kepalanya saja.
Untuk membelah rambutku yang memiliki panjang medium, seonggok gatsby kupakai hingga rambutku mampu terbelah layaknya laut teberau.
Disusul pencarian sisir yang menggusarkan keadaan rumah pagi itu.

 Untungnya sisir tersebut mudah didapat, tersembunyi didalam laci kecil di lemari kamar yang tersegel dengan mantera penyegel tujuh musim, dan tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sisir yang sangat kuat sehingga tiap elusan dari sisir tersebut, mampu membuatku terdiam menggelinjang nikmat.

==

Sesampainya di depan sekolah, terdapat bermacam – macam grup remaja alay yang tak mampu memasuki sekolah. Mereka hanya diam. Duduk di depan gerbang sekolah. Mereka terlihat lesu tak bisa memasuki sekolah.

“ya iyalah mangkal di depan. Orang gerbang nya aja gak dibuka.” Kataku sambil menepuk jidat.

Aku memerhatikan tiap grup remaja yang ada disana.
Beberapa dari mereka ada yang berkumpul dengan canggung.
Ada yang berkumpul latihan pasang muka sangar.
Ada yang bahkan hanya berdiri, melotot, dan bingung. Untungnya tidak mengangkang.
Dan yang terakhir ada grup terbesar, sekitar 75% siswa berkumpul di situ.
Aku pun melangkah maju ke grup yang paling besar tersebut. Melangkah pasti tanpa ada keraguan sedikitpun. Mereka adalah makhluk – makhluk yang sudah kukenal sejak SMP.
Sekolah ku memiliki TK, SD , SMP , SMA hingga STIE dibawah nama satu yayasan. Aku sudah bersekolah disitu sejak SD, beberapa dari temanku bahkan ada yang sudah disitu sejak TK. Jadi sebagian besar dari mereka bukanlah orang asing bagiku.

“OI! Din! DINOO sini! “ teriak satu siswa dari grup tersebut.
“tono, loh kok lu lagi disini?” balasku.
“lah elu, katanya masuk SMA XX” tanya Rudy
“ah males, tes nya ribet. Kok lu lagi sih? Bosen gue liat muka lu” jawab ku meriang.
“yadisini aja! Mo kemana lagi nyet?” balas Rudy dan Tono
“kenapa gak SMA seven aja lo?” tanya Tono ke Rudy
“mau gua jadi kenek angkot lo?” balas Rudy
“ya iya, kan mukalu dibawah garis kemiskinan” tambah ku.

“ah gimana sih. Lu lagi, lu lagi , lu lagi. Nanti lu pada mau dikubur disebelah sekolah ya?” tanya teriak Ivan ketika melihat kita berbincang.
“lah, kan udah sedia kapling di belakang SD van” balasku
“eh mulutlu boker kuda. Eh eh Dino, liat cewek itu gak? Mirip banget sama Reva ya?”
Bisik ivan kepadaku.

Reva adalah gadis manis yang duduk sebangku denganku semasa kelas 9, dia adalah salah satu teman baikku kala itu. Reva senang memakai contact lens. Katanya, itu lebih baik daripada dia memakai kacamata. Lensanya pun bervariasi tapi biasanya, bening dan abu – abu yang sering Reva pakai. Aku selalu memaksanya untuk memakai lensa berwarna merah supaya aku bisa mengaku berteman dengan klan uchiha.
Sayangnya, dia memilih SMA yang lain. Impianku untuk mengaku sebagai teman klan uchiha kandas di tengah jalan.
Gadis itu memiliki gaya rambut yang sama, dan aura yang mirip. Hanya saja cara berjalan mereka berbeda.

“loh kok bisa mirip? Tapi sayang…” keluh ku.
“kenapa” tanya makhluk – makhluk astral disekitarku.
“rok nya kepanjangan. Batin gue menangis liat rok dan kemeja yang gak gemesin” crying in latin.
“iya. Sukma gue juga tercabik – cabik” tambah Rudy.
“sukma? Loh bukannya sukma banyak pas ramadhan?” tanya ku penasaran.
“itu KURMA! KURMAAAA!” teriak mereka menggelinjang.


Tanpa sadar, ternyata gerbang telah terbuka. Siswa baru pun berlomba – lomba memasukki gerbang agar tidak kena hukuman alay. Ada yang berlari normal, ada yang berjalan santai, beberapa merangkak bersama, sebagian berjalan dengan mulut, bahkan ngesot.
Hanya untuk melewati MOS yang seperti biasa. Ketika MOS tersebut, kami dibagi kelas sementara berdasarkan urutan abjad nama. Aku mendapatkan kelas A waktu itu.
Kakak – kakak kelas menyuruh untuk memperkenalkan diri dengan nama dan hobi. Kami pun melakukannya. Satu demi satu memperkenalkan diri dan hobi mereka masing- masing. Ada yang mengaku hobi menggambar, namun ketika disuruh untuk menggambar naga di depan, dia menggambar bulatan kecil.
Itu telur naga katanya.
Tunggu seminggu itu akan menetas katanya.
Mendengar itu, beberapa dari kami mulai berencana untuk gantung diri.

Hingga akhirnya tiba giliran seorang gadis.

Dia berdiri…






0 comments:

Post a Comment