Yup, gue kalah telak.
Berasa kayak AC Milan
di final champions lawan liverpool yang udah unggul 3-0 tapi liverpool made an
amazing comeback bikin skor imbang 3-3 yang akhirnya liverpool menang penalti
3-2 dari AC milan. Perih sob! Perih!
Gue udah gak kuasa lagi
nahan feeling gue ke Rena kala itu. Ingin rasanya gue confess saat itu juga,
tapi apa? Bakalan apa jadinya?
“ehmm, Rena? “ ucap gue
dengan nada lirih setengah mau muntah.
“ya? Apa Ze? Kamu kebelet?
“bukan dodol! Ini...
gini... guee ehmm...”
“apaan sih? Tumben kamu
ngemeng nya aneh gitu, kesambet apa?”
Nah, ini yang resek. Masa Rena gak bisa bedain
nervous sama kesambet sih? Apa mungkin muka sendiri yang gak mampu bedain
ekspresi kesambet sama gugup? Gue depresi mendadak.
“apaan
dodol? Kelamaan ah! Mau bilang kamu sayang sama aku?” tanya Rena.
“hah?!
Ehm... guee, gue mau cabut duluan Ren. Apaan sih!”
“yakin
nih? Ninggalin aku?”
“maaf
ya, ada urusan soalnya. Caoo~”
Apa? Gue bingung
di antara mind blowing sama brain freeze (yang padahal dua-duanya ga bener),
otak gue ngefreeze untuk sekian detik (gue pilih brain freeze karena bunyinya
keren) seolah Rena tau apa yang mau gue sampaikan. Mungkin karena kebaca di
wajah gue yang gagal berekspresi ini.
Gue kabur.
Trus gue harus gimana?
Kalimat itu yang terus bermain di otak gue seolah
menjadi bagian tiang-tiang penyanggah sel-sel otak gue yang mulai rapuh karena
kesuraman gue. Iya bener. Gue gak bangga.
Kala itu, gue mutusin
buat ke tempat penghilang tekanan pikiran gue.
Warnet! Yoi! Apalagi kalo bukan mengulurkan tangan
gue dan mengasah gerakan tangan gue terhadap mouse dan kelincahan jari gue
menekan hotkey-hotkey skill satu sampai ultimate dari sebuah game gak top
sepanjang masa. Bukan! Bukan Asphalt game
hape! apalagi kalo bukan DotA.
Game berbasis MOBA ini menyerap gue dalam
keasyikannya kala itu (maaf, sampe sekarang). Dengan mengandalkan teamwork dan
komposisi penyusunan hero mulai dari tank, support, ganker, dan carry membuat 5
player dalam satu tim harus bekerja sama. Karakter carry yang bertugas menjadi
damage dealer sebuah tim, gak akan berhasil ‘jadi’ kalo gak disupport sama
rekan setimnya.
Sebenarnya game ini malah nambah setres daripada
ngurangin sih, tapi tak apalah. *lempar keyboard.
Kenapa
gue nulis tentang game ini? Karena mirip dengan orang pacaran, yang pacaran gak
akan mulus kalo gak saling dukung bukan? Yang satunya milih ini, yang satunya
harus support begitu juga sebaliknya. Yang satunya buka jalan dari suatu masalah, yang satunya
harus selesain sisa-sisa masalahnya. Oh ya, gue lupa bilang kalo di DoTa juga,
game susah buat menang jika 5v4 dari start nya. Dengan kata lain, dalam pacaran
juga, yang satu susah tanpa satunya lagi. Sip!
Mendadak gue jadi bijak. Ini kenapa? Apa yang
merasuki gue? Kuntilanak salto? *muntah
CPU
Oke, kembali ke Ren.....Na.
Berhubung
hubungan gue sama Rena makin maknyus aje, dan gue yang dalam keadaan kalah
telak sama feeling gue, gue mutusin gue bakalan confess ke Rena.
Dari sekian sms-sms panjang kita berdua, akhirnya
gue confess ke Rena lewat sms. Katro kan gue? Apaan sih confess lewat sms?! Laki
macam apa coba? Gak fearless.
Singkat kata gue confess ke Rena lewat sms dengan
untaian kata khas gue yang you-know-lah..
Yang gue nyangka dibalas dengan telpon dari Rena
“ehmm
halo? Ren? Hehe”
“hihi..
apaan ketawa?” bales Rena aneh.
“eh
itu... kenapa nelpon?
“apaa
yaa? Yang nanya siapa tadi?”
“gu..gue...
itu........” belum kelar gue selesain
kalimat gue langsung dipotong sama Rena.
“aku
pengen denger itu langsung dari kamu. Bukan dari sms-sms doang.”
“itu....
gue... suka sama lu... ehmm”
“trus?
Apaa? Apaaaaa?” desak Rena
“ya
itu, mau gak jadian sama gue? Hmm? Itu sih..” nada gue udah mulai santai
seiring rasa lega yang keluar dari setiap hembusan nafas gue.
“ehhh
kamu yakin? Aku masih sama dia... tapiii... kalo kamu rela, aku iya” jawab Rena
lirih.
“gueee..
gue rela Ren. Tapi, gak lama lagi kan?”
“iya
sayang..”
Sejak malam itu, gue resmi melepas status jomblo
gue ke in a freakin relationship. Cieee *telen monitor.
Gue juga gak lupa kalo gue nikung. Dan yang
menyedihkannya gue masih dalam status diduakan.
Ahhh, apa ini? Kenapa gue cenderung jatuh sama
cewek-cewek dengan status pacaran? Mngkin sajaa, mngkin ini...
Ternyata gak seindah yang diharapkan... dasar
lelaki bodoh.
Bersambung ke part terakhir.