Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Monday, 18 November 2013

Nanas dan Martabak Last.

06:31 Posted by Unknown No comments
yup gue terhanyut dalam indah nya romansa dan nuansa dalam sebuah hubungan sakral.
ehm... gak sakral sih, dasar pendusta!.

sebuah hubungan dengan Rena terasa cukup menyenangkan bagi gue yang lagi lope lope. hanyut dalam derasnya arus cinta yang mungkin akan membawaku ke titik dimana air terjun berada. kalimat ini bernada ambigu sebenarnya.

"hai sayang..." gue mengatakn itu sambil tertawa geli sembari kegelian muntah udah di tenggorokan.
kealayan yang menyenangkan. mungkin sejak itu yang membawa sindrom alay gue kebawa sampe sekarang. saya insaf mbah.. insaf! *cpruuutttt

"hai juga sayang..."

ups, balasan yang sama menggelikannya namun di satu sisi membawa kebahagiaan yang tak kasat mata bagi nuraniku, mengobati tiap luka sukmaku dan memberi harapan baru bagi gelapnya ruang hati yang kehilangan cahaya setelah sekian lama.

yup, suara yang membuat eargasm pada gue kala itu.
suara manis nan menyenangkannya Rena... cieee yang lagi jatuh cinta~

"lagi dimana?" tanya gue penasaran.

"ini lagi di mall, nyari barang" kebutuhan"

"kebutuhan apa? ngantri sembako di mall sekarang ya?! wah canggih sekali." kata gue dengan tingkat kepedean melebihi jumlah planet di alam semesta.

"kagak begoo, lagi beli softex! emang kamu mau nitip dibeliin sama aku juga?"

"ho oh, beliin satu ya! yang pake 'sayap' nya"

dan besok sorenya gue dikasih tas plastik item di kampus berisi satu pak charm body fit exra wing untuk perlindungan bagian samping. gue kena hukuman sosial hari itu juga.

bergegas gue nyari Rena ke kelasnya dengan tergesa - gesa menyimpan rapi barang yang bukan untuk lelaki sejati tersebut kedalam ruang paling dalam hatiku. eh salah! ruang paling dalam dan paling tersembunyi dari tas mahalku yang seharga lima es cendol.
terkadang gue bingung kenapa tangan ini selalu menuliskan hal yang tidak perlu dari tubuhku yang indah ini. gue bohong.

"hoi nyonya! lihat perbuatanmu! mengapa benda ini ada di mejaku?!" tanya gue ke Rena.
"hei laki-laki! kamu yang minta itu kan? ya aku kasih aja, bleee" jawab nya simpel ditutup Rena yang menjulurkan lidah yang anehnya membuat gue meleleh kala itu.
"buset dah, gak lu tambahin kiranti datang bulan juga sekalian?" balas gue sedikit kesal.

dan besoknya lagi gue dapati dua botol kiranti datang bulan di meja gue dengan secarik kertas kecil tertempel di kedua botol tersebut dengan tulisan :


" minumnya yang teratur ya sayang, biar nyeri nya gak berlebihan plus cepet ilang :p "


dan hari itu juga membuat gue belajar akan kejamnya seorang wanita.

sorenya, seperti biasa gue menghabiskan waktu dengan wanita gue. yup, senang rasanya gue mampu menyebut kata itu, walaupun ada sedikit perih yang datang bersama kata yang kuucapkan itu.

"lu mau beli apa? abang bayarin deh!" sok gue ketika masuk mall bareng Rena.
"ealah, gayamu bang, horror banget, emang aku perlu dibayarin kamu hmm?" rena membalas kalimat gue dengan senyum sinis menghina sambil disusul tawa mungil dari mulutnya.
"eh songong! songong!" cuma kalimat itu yang bisa gue balas ke Rena ketika melihat keadaan dompet gue yang sangat busung lapar. iya gendut perutnya karena full sama recehan.
 saat itu gue melihat tali tergantung, ingin rasanya memasukkan kepala gue ke dalam lingkaran tali itu.

 kita masuk ke bioskop membeli tiket yang syukurnya masih mampu gue beli untuk berdua.sebuah tiket film sherlock holmes.
sepanjang film berjalan gak kerasa sepasang lengan tengah merangkul lenganku.
bioskop adalah tempat menyenangkan bagi gue.
dengan senyum menyeringai gue mengatakan hal itu selesai film yang gue tonton bareng Rena.

kita kembali berjalan, kali ini ditambah bergandengan tangan seperti film film romantis yang ada di pasaran. iya, pasaran. maksudku memang pasaran.

kita masuk ke sebuah rumah makan, dan kita mengambil tempat duduk.
Rena mengambil tempat duduk disamping gue.

"gak Ren, jgn duduk situ. di depan gue aja hehe"
"lah emang kenapa?"
"udah duduk aja sayaang~" kata gue memelas.

karena bagi gue gak enak buat Rena duduk di samping gue, bagi gue seorang wanita kalo makan berdua dengan prianya, harus duduk dihadapan prianya itu. kenapa?
biar gue bisa menikmati makanan dan wajah indah seorang wanita itu.
tanpa sadar senyum mungil telah terlukis di wajah gue.

"eh gila! mukamu kenapa? lgi mikirin yang saru ya?"
"iya, sih iya" tanpa sadar gue mengiyakan aja  tanpa tahu pertanyaan apa yang diutarakan.
"ealah? apaa?! ish perv mas perv, bleee" sebuah balasan yang bikin gue bingung dan tambah bingung lagi gue ketika disusul Rena yang menjulurkan lidah dengan ekspresi wajah yang benar-benar anugerah bagi mata gue.

setelah selesai makan kita berbincang dan tertawa dengan biasanya,disusul keheningan yang diisi tepat dengan suara nada dering hape Rena.

setelah baca sms itu, Rena mengangkat kepalanya dan menatap mata gue.
gue tau tatapan mata itu, tatapan mata yang mengutarakan kebingungan dan perasaan bersalah menusuk tepat di kedua pupil mataku yang mengantarnya ke otakku untuk memproses apa yang membuat reaksinya menjadi seperti itu.

"hmm, ehmmmm Ze....." sebuah kalimat bernada lirih yang membuatku sadar seketika.

"ya? Jack ya?"

"iya, aku dipanggil dia. maaf Ze"

"oh... iya hehe" sebuah balasan singkat yang gue tutup dengan tawa palsu yang sepertinya sudah menjadi natural karena latihan tanpa sadar secara berkala yang harus gue lakukan.

"kamu yakin? .... aku....."

"iya."

Rena pun memasukkan perlengkapannya ke tas nya dan berangkat dari meja makan kita, gue yang saat itu bingung tanpa sadar tangan gue menahan lengannya.

"Ze........."

"eh..... hehe" sekali lagi senyum palsu yang gue keluarkan yang menutup dinner kita pada malam itu.

gue masih duduk sendiri.
bengong.
mata gue masih terpaku kepada kursi kosong di depan gue dengan sisa makan dalam piring di depan piring gue.

gue pulang.
gue pulang naik angkot yang pada saat itu memutar lagu 'Tangga - Cinta Begini'.
oh ya, berhubung angkot - angkot di kota gue pada keren - keren dan pada pake audio system pada angkot mereka.
Keren emang, tapi kalimat itu bakalan kalian tarik kembali ketika si supir memutar lagu nya dengan volume max dan bass max, itu emang bikin jengkel. bahkan kalopun mau kentut saat itu, kentut sekuat-kuatnya pun gak akan terdengar orang disampingmu. hanya mungkin bau surganya yang tercium oleh stranger yang siyal nan mengalami bad day berlipat-lipat ganda jika dia mencium bau itu.

setiap detik terasa hampa bagi gue dalam perjalanan pulang ke kost awesome gue.

untung saja mentalitas gue sehat.
mungkin definisi sehat menurut gue dan kalian berbeda. camkan itu.

gue kembali bangun pagi karena alarm dahsyat gue yang sangat 'menyenangkan' setiap pagi.
gue bingung dengan arti kata menyenangkan belakangan ini.
kala itu gue melihat situasi kamar kos gue, dan air mata berlinang di wajah gue.
kenapa gue tidur di tempat penampungan barang hasil pemulung begini ya Tuhan?!
seru gue yang di balas oleh sesosok makhluk penghancur manusia terbang di depan gue.
sebuah, eh seekor maksudnya. seekor makhluk mengerikan berwarna coklat kemerah-merahan dengan antena di kepalanya terbang dengan indahnya di depan mata gue.

yup, ternyata ada seekor roommate gue yang gue gak sadar dia udah tinggal sekamar sama gue.
iya, seekor kecoa. iya, sekamar sama gue. dan mungkin sudah berkeluarga besar di kamar gue.
gue merasa hina.


sesampainya di kampus, gue dikagetkan dengan suara familiar yang seperti pengisi suara dalam animasi terkenal yaitu Transformers. namun suaranya mirip sekali dengan suara Optimus Prime saat berubah menjadi truk gede.
iya, maksud gue suara jett jeett jettt nya.
oh itu sound fx ya?
ya dekat-dekat gitu lah...

"Boneng! woi! woiiiiiii!"

suara mengerikan yang terdengar dari seberang jalan itu, membuat gue memalingkan kepala gue dan terkejut melihat sosok lelaki dengan kulit putih, tangan sebelah panjang sebelah pendek dan menyeberangi jalan dengan mata tertutup.
gue bercanda dengan tangannya lelaki ini.

 setelah gue teliti dengan saksama dengan penuh perhatian, ternyata Bryan.
 iya, si cina pedagang najis yang hilang entah kemana.

"woi muka bangke! kemana aja lu? udah buka toko lu?" seru gue.

"gue berangkat jalan-jalan lintah laknat! baru sampe nih, sementara di jalan gue muntah mendadak liat muka lu. makanya, gue samperin lu." balasnya dengan penuh kasih.

"apa?! gimana usaha rumah jagal lu? udah sukses ekspor kecoa ke asia ya?"

"muka lu gembel. lagi nerusin usaha keluarga gue lah. oh ya, Rena udah mau ultah ya? kita kesana lagi dong.... aseek"

"eh iya yah, gue kelupaan. shieeet!"

"balik lagi deh lu ke rumah penuh 'kenangan' huahahh"

tibat - tiba sendal swallow langsung gue sodorin ke mulut nya Bryan.
dia pingsan sesaat.


setelah reuni akbar yang kita berdua lakukan, kita setuju untuk pergi bareng ke rumahnya Rena sekali lagi. kembali menantang takdir.

disusul suara manis yang selalu gue tunggu-tunggu tengah memanggil nama gue.

"hai cowok, euuh cakep bener euuy. main bareng kita yukk"

dan gubrak! ternyata pendengaran gue yang bermasalah saat gue lihat sosok yang memanggil gue merupakan lelaki setengah siluman titisan dewa lintah.

"gak mbak.. pak.... om... sus......."
currrrr langsung gue mengangkat pantat sexy gue dan berlari sambil menyadari kenajisan yang gue alamin.

tiba-tiba ada suara merdu lagi memanggil gue.
"Ze....."

"hah?! siapa anda?! lelaki produk gagal thailand lagi?!" seru ku dengan refleks tanpa melihat siapa yang memanggil gue.

"gak dudut! ini aku !"

ternyata kali ini produk sukses dari Tuhan yang menyapa gue.
"woalah Rena toh! gue pikir makhluk tadi...."
"kenapa emang? cantik juga kok itu. diembat aja haha"
"muka gila, kan udah  ada yang paling cantik disini .."
"sedeng!"
 "Ze..... nanti tanggal 13 kerumah aku ya.. hehe"
"hah?! ada apaan emang?"
"ada kangkung, ayam bakar , nasi dan segala macam lainnnya."
"oke siap!"

mendengar nama-nama berkah, gue gak pikir panjang lagi.
langsung menyiapkan diri. gue lemah dihadapan nama-nama itu.


empat hari berlalu tanpa terasa bagiku, yup time warping sangat terasa bagi orang yang menjalin hubungan, walaupun bukan hubungan sepasang.
yup, gue memikirkan hal itu ketika mencari pasangan yang tepat bagi jeans gue.

tiiin tiiiinnnnn..
suara klakson yang berbunyi di depan kos gue.
"kayak nya Bryan laknat deh, tapi kok beda ya?" pikirku bingung.
dan benar saat gue jalan ke pelaminan, ups! keluar kos maksudnya. gue melihat sebuah mobil avanza parkir di depan kos gue.

dan gue kaget ternyata Bryan sudah mengendarai mobil avanza.
gak tau udah kelar kredit apa belum.

"woi! bisnis ekspor kecoak lu udah merambah kancah international ya?!"
"matamu!"

yup, cuma itu yang bisa dia katakan ketika itu.
kita berdua pun berangkat kembali ke tempat pertama gue memulai cerita ini.
ke tempat pertama gue bertemu beberapa gadis yang sempat melewati harta batinku.
ke tempat semua berawal.
yang jadi pertanyaanku adalah, akankah menjadi tempat semuanya berakhir juga?
itu yang terus gue pikirin dalam benak gue.
entah antara kekhawatiran atau kenyaman yang tidak pasti.


dan akhirnya kita sampai juga.
kembali ke depan pintu gerbang mewah yang menantang gue untuk masuk kembali dan melihat apa yang ada dibaliknya.

dan yup, gue berjalan dan disekeliling gue dipenuhi oleh berbagai lelaki dan gadis memenuhi tempat itu.
dan kembali lagi gue melihat sosok wajah Tuhan di muka bumi datang mendatangi gue dengan anggunnya, dengan elok nya, dan dengan segala keindahan dirinya.

"masuk yuk. hehe"

kembali lagi malam itu gue mendengar suara yang benar-benar memegahkan suasana.
tanpa sadar aku hanya berjalan saja mengikuti tiap langkah-langkah kaki indah yang menuntunku dengan tangan manis yang sedang memegang erat lenganku.


yang gak gue sadari adalah ketika tangan Rena dengan tiba-tiba melepaskan tangan ku.

sebuah kalimat "kenapa? hah?" itu yang tertumpuk di batin gue namun tak bisa gue ungkapkan.

butuh waktu kurang dari dua detik untuk kepala gue menghadap ke depan dan mata gue tertuju ke seorang lelaki berbadan lebih tinggi beberapa centimeter dari gue dan kulit yang putih, serta sebuah kacamata yang melindungi matanya yang sipit.

Jack.

gue tatap mata jack dan ternyata ada tatapan balik yang gue dapatkan dari dia.
sebuah tatapan yang penuh kecurigaan.
sebuah tatapan yang terisi kecemburuan.

namun tatapan nya berubah saat matanya berpindah dari mata gue ke Rena.
tatapan yang terisi rasa kekaguman dan keindahan yang mengisi matanya.
tatapan yang gue miliki saat gue menatap cermin yang dimana Rena terlintas sejenak di benakku.

namun ternyata Jack masih belum mengetahui hubunganku dengan Rena.
Rena masih belum mengatakan hal ini kepadanya.
entah apakah aku mau hubunganku dan Rena diketahui olehnya atau tidak.
gue bingung.

acara malam itu pun dimulai.

gue mengambil kursi di samping Bryan dan didepannya adalah Jack.
Bryan tak berkata apapun kepadaku kala acara berlangsung.


selama acara berlangsung, Rena duduk di bagian dalam.
tepat di samping kue ulang tahun milikknya.
malam itu kembali lagi ku lihat senyum tulus serta wajah ceria alami yang jarang ditunjukkannya, kembali mendekorasi sosoknya yang menawan.
yang membuat gue mengeluarkan senyum yang baru gue sadari 3 detik kemudian.


kata - kata ucapan terima kasih pun akhirnya diutarakan Rena.
bukan kata - kata yang spesial. hanya kata ucapan biasa.

"makasih, hehe"

kalimat itu yang menutup ibadah malam itu, dan dilanjutkan ramah tamah yang tentunya sudah gue tunggu - tunggu sedari tadi.
perutku menolak untuk bernegosiasi, hatiku menolak menerima kenyataan.
perasaan - perasaan yang bertabrakan menjamuku malam itu.


"hei..."

sambil menepuk pundakku, Jack menegurku.

"yo?" balasku.
"ngomong bisa?" jack menaggapi.

"ok."

kami pun melangkah dari tempat itu.

"kamu, suka sama Rena?" pertanyaan langsung yang diutarakan Jack padaku.
 kujawab dengan anggukan disusul kata "iya" dari bibirku.

"kamu jalan sama dia?" tanya nya lagi yang sekali lagi kujawab dengan anggukan disusul kata "iya".

sepertinya perbincangan antara kedua lelaki dengan sifat yang straightforward berlangsung dengan cepat.

bukk!
tinju kanan Jack melayang ke perut gue.
seketika tangan gue ingin membalas tinju itu, namun tubuh gue gak bisa.
gue tau gue pantas dapetin itu.
dan ternyata sekali saja dia meninju ku.
sepertinya dia juga tahu kalau tinju yang kedua akan membuat tubuh ku membalas serangannya yang bila dilancarkan sekali lagi.


 " kamu tahu itu untuk apa. " kata Jack.
 " memang gue tau, gue tau juga tau kalo gue pantas nerima itu. tapi gue tetap megang Rena "  balasku.

" liat aja nanti "
kalimat Jack itu yang menutup pembicaraan kita dan membuat kita berdua kembali ke arah nya masing-masing.


acara Rena pun selesai dan gue beranjak pergi.
Rena mengantar gue ke pintu depan.
dan sebelum berpisah gue menyelipkan kado kecil ke tangannya.

" kecil aja ya. hehe"

 sebuah kado kecil yang cukup plain.
gue yang masih alay kala itu memberikan kado yang berisi kalung couple dang gue memegang kalung satunya.

gue pun sampai di kost tercinta gue dianterin Bryan yang rela mengantar gue sampe di kos suram ini.

dan sebelum memeluk bantal, gue mendapat sms.
saat gue liat, ternyata dari Rena dengan isi ucapan terima kasih atas kalung yang gue berikan.
 hanya senyum yang gue balas, yang tentu tak tersampaikan padanya.

gue pun kembali ngampus untuk keesokan harinya.
dan ternyata Rena sudah menunggu gue.
dia tersenyum - senyum senang.
 aku masih ingat senyum itu.

dan ternyata kalung yang gue berikan ke Rena malam itu, tergantung di lehernya saat ini.

sayangnya gue tertawa ketika melihatnya.
karena kalung yang gue berikan terlalu panjang dan membuatnya seperti seorang rapper.
dasar begooo ! begoo! gue gak liat ukuran kalungnya. asal ambil aja, gaje amat.

"kepanjangan om! liat nih! wassap yo!" komplain Rena sambil tertawa.

hanya tertawa yang bisa gue berikan ketika itu.

sekitaran 2 minggu pun berlalu. dan gue masih jalan dengan Rena .
masih menjadi orang ketiga.

" kamu maunya gimana? " tanyaku.
" maksudnya? "
" apa kita bakalan begini terus? "
" kamu gak bisa? "
" aku capek Ren. "
" kenapa kamu mau dari awalnya? "
" tapi kan.... masih belum bisa sama Jack? "
" belum... maaf "
" .... " aku hanya bisa terdiam.

sejak saat itu, kita sering berbicara tentang hal ini dan membuat hubungan kita tidak nyaman lagi.
tidak seperti waktu itu.
tak seperti saat Rena membersihkan bibirku dari saos.
tak seperti waktu aku duduk dengan dia diselimuti bintang.
tak lagi gue liat senyum - senyum kecil manis di wajahnya.

hingga sampai pada hari itu.
kala kita bercakap di kampus.

" Ren, jadi gimana? " gue membuka pembicaraan lagi.
" Ze, mungkin aku... gak bisa..."

" hmm. sudah gue duga. "
" kita, sampai disini aja. "

jleb!
kalimat itu menusuk jelas di dada gue.
sejenak otak gue membuat flash back kilat dimana gue mengingat hubungan gue sama Rena yang ditegaskan otak gue kalo itu telah dicap sebagai kenangan mulai saat ini.

" iya , kalo itu maumu. " balasku.

" bye Ze...."

sekitar lima langkah dari gue, Rena berbalik dan berucap

" kalo kamu memang benar - benar sayang sama aku, kamu bakalan nunggu sampe aku benar - benar  sendiri"

dan saat itu juga gue melihat ke lehernya.
kalung gue masih tergantung dengan baiknya di leher Rena.

hanya senyum yang kubalas sembari melihat Rena melangkah pergi.
dan ketika itu juga berbagai rasa yang telah lama terkubur,  seakan bangkit dari kuburannya masing - masing dan memukul gue bertubi - tubi dari segala sisi.

memang perih yang kurasa.
membuat gue berpijak pada lantai kecil kembali yang dinamakan jomblo.

mungkin karena itu juga yang membuatku sangat benci dengan menunggu. menunggu adalah hal yang sangat menyakitkan.
tapi bagiku, jatuh cinta adalah proses penumpukan perih kesakitan yang menunggu untuk menyerangmu , memukulmu , dan mengoyakmu  ketika kata putus diutarakan.
jatuh cinta adalah seperti obat bius yang diberikan saat kamu melakukan operasi. tanpa dirasakan tubuhmu dirobek, dirombak , di gunting, di gergaji.
 namun tanpa merasakan apapun.
 tapi ketika bius itu habis dan kesadaranmu kembali kepada ketidakadilannya  dunia nyata, segala kesakitan yang tertumpuk itu datang menyapamu , memperkenalkanmu kembali kepada dunia.

dan cinta adalah selayaknya Nanas yang memberi asam asin dalam periode biusmu,
juga seperti Martabak yang memberi rasa manis ketika mengenang.

apakah akan terus begitu?
mungkin iya.
tapi mungkin juga akan mengenalkanku pada rasa baru.

sebuah rasa  yang membuat ku jatuh kembali tanpa memperdulikan konsekuensinya.

Lemon Tea.

"eish, bukan urusanmu!" katanya...






END.