Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Sunday, 11 January 2015

Bundar Tak Bersisi II

10:06 Posted by Unknown No comments
“ selamat pagi, Saya Arianti. Dari SMP Selera Dunia “ ucap gadis itu tenang.  Tentu saja asal sekolahnya aku samarkan untuk menghindari jika saja terjadi pemboman nuklir di sekolahnya. Suara gadis itu lembut. Dengan tenang ia memperkenalkan dirinya namun, untuk saat berikutnya dia menarik nafasnya ketika kakak osis menanyakan tentang hobi.

“hobimu apa Arianti?” Tanya kakak OSIS penasaran.
“hmmm…. Itu….” Arianti mulai tidak tenang, dia melihat sekeliling dengan ragu – ragu.
“saya hobi bermain game.” Jawabnya pelan namun terdengar seisi kelas.
“game ? game apa?” Tanya kembali kakak OSIS.
“game online…” jawab Arianti.

Seketika kegaduhan terjadi di kelas. Para lelaki mulai bersorak di tempat meriang – riang hebat hingga menjahit bibir dan unjuk rasa. Memaksa para kakak OSIS untuk melemparkan gas air mata ke dalam ruangan kelas. Mengapa tidak? Seorang gadis cantik yang hobi bermain game online adalah bagian dari 90% fantasi lelaki. Dan hal demikian jarang sekali terjadi, apalagi diakui oleh seorang gadis didepan umum.
Namun saying, ketika ditanya game apa yang Arianti mainkan dia menjawab AyoDance. Beberapa lelaki kecewa berat dan undur diri dari situ. Aku pun demikian, tapi ingin kutanyakan berapa yang telah Arianti habiskan dalam game bodoh tersebut. Dan terang saja, lima juta lebih telah dihabiskan untuk game perusak generasi itu oleh Arianti. Aku hanya terdiam membisu. Syukur saja mulutku tidak berbusa tiba – tiba.

Giliranku tiba. Dengan sigap, aku pun memberanikan diri.
“Saya Dino. Dari SMP Ember Rese” jawabku.
 Aku bingung dengan hobiku. Aku tak memiliki hobi khusus pada saat itu. Aku tak tahu apa yang aku sukai. Tapi, berhubung aku tahu berenang dan cukup menyenangkan berada di air namun kampretnya gosong terbakar matahari, aku berketa berenang sebagai hobiku. Dan ya, aku disuruh berenang di kelas. Yasudah aku berenang saja gaya dada layaknya penguin idiot yang coba menyangkal realita.

==
Waktu perkenalan telah selesai. Arianti masih jadi perbincangan diantara lelaki hingga waktu istirahat. Aku berbincang dengan Elli teman SD ku di depan kelas yang tiba – tiba kami didatangi pria misterius.

“Hey Dino! Gimana ‘kalian muka penjahatnya’ ?” teriak pria misterius itu.
“WTF?! Lu siapa? Gak kenal gua, main high-five tiba – tiba” pikirku, karena aku tak mengenal laki – laki ini. Tapi, aku melihatnya ketika MOS menyanyi di depan. Tapi karena kebetulan aku diajarkan tata karma, ya kusapa dia.
“oh Hey!” kataku ramah tapi bingung.
“oh , aku Ken. Gue denger kasus lo dari temen – temen. Haha”
Oh ya, ketika MOS aku disidang kakak – kakak OSIS karena ketika mereka menyuruh untuk bertugas tapi tas ditinggalkan, aku bilang ke mereka “ah gak percaya gua, muka – muka penjahat semua” ketika tugas diselesaikan, namaku dipanggil untuk menemui mereka. Dan yap! Aku disidang oleh OSIS. Aku hanya diam, aku bukan orang yang suka peduli dengan orang lain. Aku memilih untuk diam dan tunggu segala omong kosong mereka untuk berlalu. Mulutku memang ceplas – ceplos. Dan aku cukup hebat dalam adu menghina. Karena itu juga, aku terlibat beberapa perkelahian ketika SMP. Namun aku janji  untuk mengurangi mulutku saat aku memasuki SMA.

Sepertinya kasusku cukup diketahui beberapa orang di kelas X. aku juga sadar kalo ini si Ken itu, dia pacarnya Elli dan kami bertiga berasal dari SMP yang sama. Hanya saja, SMP kami memiliki semacam dua divisi, dengan dua kepsek yang berbeda juga. Aku berasal dari Ember Rese 1 namun Elli dan Ken dari Ember Rese 2. Ken memiliki postur yang kurang lebih sama denganku. Namun, seragamnya rapih, cara berpakaiannya rapih. Dengan kacamata, Ken terlihat seperti siswa teladan dan dia cukup terkenal cause this guy can sing. And I mean a real good singer. jadi, aku berpikir bahwa Ken adalah siswa baik – baik, dan teladan bagi semua lainnya. Hingga ternyata kita sekelas, dan ternyata laki – laki ini selaras dengan kami.he has the same fucked up mind like we do dan kadang, lebih iblis dari kita. Membuat kita bertemain baik pada akhirnya.

==
Pembagian kelas telah diumumkan. Aku menempati kelas yang katanya dengan nilai – nilai test yang tinggi. Kelas terakhir, G. struktur kelas dibagi dari yang ‘pintar’ hingga ‘klinik’ dari G hingga A. kelas E-F-G menjadi kelas yang katanya khusus anak – anak pintar. Makanya aku berada di kelas dengan jumlah laki – laki 9 orang saja. Termasuk aku, Ken, dan yang lainnya ternyata lelaki laknat seperti kita juga.
 Padahal ketika test, aku memang cukup baik dalam Bahasa inggris sementara matematika aku hanya memanggil jelangkung dan kemampuan mata elang dan mulut suci yang kuasah sejak lama.
 Sekedar melihat, ternyata aku sekelas dengan gadis itu…