“ selamat pagi,
Saya Arianti. Dari SMP Selera Dunia “ ucap gadis itu tenang. Tentu saja asal sekolahnya aku samarkan untuk
menghindari jika saja terjadi pemboman nuklir di sekolahnya. Suara gadis itu
lembut. Dengan tenang ia memperkenalkan dirinya namun, untuk saat berikutnya
dia menarik nafasnya ketika kakak osis menanyakan tentang hobi.
“hobimu apa
Arianti?” Tanya kakak OSIS penasaran.
“hmmm…. Itu….” Arianti
mulai tidak tenang, dia melihat sekeliling dengan ragu – ragu.
“saya hobi
bermain game.” Jawabnya pelan namun terdengar seisi kelas.
“game ? game
apa?” Tanya kembali kakak OSIS.
“game online…”
jawab Arianti.
Seketika kegaduhan
terjadi di kelas. Para lelaki mulai bersorak di tempat meriang – riang hebat
hingga menjahit bibir dan unjuk rasa. Memaksa para kakak OSIS untuk melemparkan
gas air mata ke dalam ruangan kelas. Mengapa tidak? Seorang gadis cantik yang
hobi bermain game online adalah bagian dari 90% fantasi lelaki. Dan hal
demikian jarang sekali terjadi, apalagi diakui oleh seorang gadis didepan umum.
Namun saying,
ketika ditanya game apa yang Arianti mainkan dia menjawab AyoDance. Beberapa lelaki
kecewa berat dan undur diri dari situ. Aku pun demikian, tapi ingin kutanyakan
berapa yang telah Arianti habiskan dalam game bodoh tersebut. Dan terang saja,
lima juta lebih telah dihabiskan untuk game perusak generasi itu oleh Arianti. Aku
hanya terdiam membisu. Syukur saja mulutku tidak berbusa tiba – tiba.
Giliranku tiba. Dengan
sigap, aku pun memberanikan diri.
“Saya Dino. Dari
SMP Ember Rese” jawabku.
Aku bingung dengan hobiku. Aku tak memiliki
hobi khusus pada saat itu. Aku tak tahu apa yang aku sukai. Tapi, berhubung aku
tahu berenang dan cukup menyenangkan berada di air namun kampretnya gosong
terbakar matahari, aku berketa berenang sebagai hobiku. Dan ya, aku disuruh
berenang di kelas. Yasudah aku berenang saja gaya dada layaknya penguin idiot
yang coba menyangkal realita.
==
Waktu perkenalan
telah selesai. Arianti masih jadi perbincangan diantara lelaki hingga waktu
istirahat. Aku berbincang dengan Elli teman SD ku di depan kelas yang tiba –
tiba kami didatangi pria misterius.
“Hey Dino! Gimana
‘kalian muka penjahatnya’ ?” teriak pria misterius itu.
“WTF?! Lu siapa?
Gak kenal gua, main high-five tiba – tiba” pikirku, karena aku tak mengenal
laki – laki ini. Tapi, aku melihatnya ketika MOS menyanyi di depan. Tapi karena
kebetulan aku diajarkan tata karma, ya kusapa dia.
“oh Hey!” kataku
ramah tapi bingung.
“oh , aku Ken. Gue
denger kasus lo dari temen – temen. Haha”
Oh ya, ketika
MOS aku disidang kakak – kakak OSIS karena ketika mereka menyuruh untuk
bertugas tapi tas ditinggalkan, aku bilang ke mereka “ah gak percaya gua, muka – muka penjahat semua” ketika tugas
diselesaikan, namaku dipanggil untuk menemui mereka. Dan yap! Aku disidang oleh
OSIS. Aku hanya diam, aku bukan orang yang suka peduli dengan orang lain. Aku memilih
untuk diam dan tunggu segala omong kosong mereka untuk berlalu. Mulutku memang
ceplas – ceplos. Dan aku cukup hebat dalam adu menghina. Karena itu juga, aku
terlibat beberapa perkelahian ketika SMP. Namun aku janji untuk mengurangi mulutku saat aku memasuki
SMA.
Sepertinya
kasusku cukup diketahui beberapa orang di kelas X. aku juga sadar kalo ini si
Ken itu, dia pacarnya Elli dan kami bertiga berasal dari SMP yang sama. Hanya saja,
SMP kami memiliki semacam dua divisi, dengan dua kepsek yang berbeda juga. Aku berasal
dari Ember Rese 1 namun Elli dan Ken dari Ember Rese 2. Ken memiliki postur
yang kurang lebih sama denganku. Namun, seragamnya rapih, cara berpakaiannya
rapih. Dengan kacamata, Ken terlihat seperti siswa teladan dan dia cukup
terkenal cause this guy can sing. And I mean
a real good singer. jadi, aku berpikir bahwa Ken adalah siswa baik – baik,
dan teladan bagi semua lainnya. Hingga ternyata kita sekelas, dan ternyata laki
– laki ini selaras dengan kami.he has the
same fucked up mind like we do dan kadang, lebih iblis dari kita. Membuat kita
bertemain baik pada akhirnya.
==
Pembagian kelas
telah diumumkan. Aku menempati kelas yang katanya dengan nilai – nilai test
yang tinggi. Kelas terakhir, G. struktur kelas dibagi dari yang ‘pintar’ hingga
‘klinik’ dari G hingga A. kelas E-F-G menjadi kelas yang katanya khusus anak –
anak pintar. Makanya aku berada di kelas dengan jumlah laki – laki 9 orang
saja. Termasuk aku, Ken, dan yang lainnya ternyata lelaki laknat seperti kita
juga.
Padahal ketika test, aku memang cukup baik
dalam Bahasa inggris sementara matematika aku hanya memanggil jelangkung dan
kemampuan mata elang dan mulut suci yang kuasah sejak lama.
Sekedar melihat,
ternyata aku sekelas dengan gadis itu…