Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Thursday, 23 May 2013

Nanas dan Martabak Part V

07:18 Posted by Unknown No comments
pas sementara gue ngemil hot dog tujuh ribuan, pake sosis dobel isinya mustard dan sayur aneh yang agak menjijikkan rasanya, ada tepukan yang mendarat di bahu gue.

"oi Ze! tumben lu nongol sini? ngapain? beli 'barang' tujuh ribuan?"

gue berpaling, untuk kesekian kalinya gua sakit hati. gue lupa bawa sunglasses! silau mak! silau!.

"ini apa lagi? mngkinkah klimaks di film knowing sementara terjadi?" kata-kata ngelantur yang asal loncat dari mulut gue, entah kenapa udah menjadi bagian dari charm gue hoho.

"ah kamu apaan coba? nonton knowing aja beli yang bajakan kualitas inside-studio gitu. pas aurora mataharinya keluar, ada soft drink melayang-layang di layar."

gue tercengang. harga diri gue jatuh di depan mbak-mbak embem dengan celana gemes mereka masing-masing. tanpa gue sadari, saos udah meleleh dari mulut gue. sebelum gue berpikir betapa sialnya gue, terasa petir menyerang gue. badan gue kesetrum seluruhnya.

iya, dia dengan cekatan ngambil tisu di tas nya, yang akhirnya digunakan untuk ngelap saos yang mencicil keluar dari mulut gue. pikiran gue selama ini menipu gue.

"umur berapa kamu? ini saos masih merembes kek keputihan dari mulut kamu hih."

"ah......... ehh....... hihi..... makasih ya Rena.."

yup, itu Rena si cewek kaya raya yang menjadi pembuat pesta yang juga menjadi tempat gue bertemu dengan..... ehmm...... dia...... iya, dia.... Tere.

berawal dari saos, pembicaraan pun memanjang. Rena nanya tentang Bryan yang gue juga bingung udah hilang kemana. mungkin sudah membuka usaha rumah jagal dengan kecoak sebagai sumber dana induk.

gue pulang ke kosan gue. tapi sebelum dari situ, gue singgah ke 'markas' gue.
biasa, membantai player-player lain di DotA. gue pro.
produk gagal.

Rena yah, hmm... gadis cantik, seksi, punya akal sehat yah. dan.... itu...... kaya raya!
tapi, walaupun ortu Rena yang notabene-nya kaya, Rena gak make pakaian yang over tapi tetap casual namun cantik, dengan merek-merek terkenal (mahalnya) yang nempel di setiap pakaian yang dia kenakan.
tapi dia baik, dia gak suka merendahkan orang-orang yang kurang dari dia. Rena temenan dengan siapa aja, namun selektif dalam pergaulan. Rena suka banget bercanda. tapi, terkenal juga karena temperamennya yang 'menakutkan' kalo udah meledak. sebagai lelaki jantan nan pemberani rajin menabung dan tangguh, gue gak bisa apa-apa klo dia udah 'meledak'. gue pasrah.

"oh ya Ze, kamu lahirnya bulan apa?"

"hmmm, gue januari XX"

"walah, aku lebih tua dong, hmm... kalo gitu, kamu didi aku dong? hihi."

didi, sebutan untuk adik lelaki dalam bahasa mandarin. iya, gue tau mandarin.
iya, gue diajarin  oleh laoshi pembunuh karakter.
iya, gue ditabok beberapa kali.

oh ya, Rena itu chinesse. sebangsa dengan sohib gue Bryan yang notabene-nya pedagang najis.
percakapan itu terjadi di kampus. gue ternyata udah deket dengan Rena.
oh ya, gue lupa juga. ternyata pemahaman gue cukup bener. cewek cakep cenderung berada di lingkaran cewek-cewek cakep.
tanpa gue sadari, gue cukup akrab dengan temen-temen Rena yang ternyata rada 'miring' juga bercandanya. 


suatu hari, di negeri yang jauh disana.... eh?! gak! gak! bukan once upon a fucking time.
suatu hari gue ditanya Rena dengan permintaan yang cukup biasa bagi gue.

"Ze, mau ke rumah aku entar? aku manggil temen-temen ke rumah."

"ha? buat apa?"

"yah makan-makan aja. kamu mau? kamu manggil konco-konco kamu juga deh."

"makan?! siap! datang tepat waktu!"

gue berpaling, berjalan berpisah dari Rena dengan senyum di wajah gue. tapi gue dengar suara samar-samar memanggil nama gue.

"Arze dodol!! emang kamu udah tau jam brp?"

"wah iya! jam brp Ren?"

"buset, denger makan aja langsung melek itu muka udah kek bondan maknyus aja! jam delapan!"

"oh, iyah iyah heheh"

sip! makan lagi~
oh ya! waktunya set style yang ajib!.
sesampainya di kos gue, gue buka lemari pakaian gue yang hanya membuat mata gue terbelalak! lemari gue dipenuhi celana idola cilik warna-warni punya si Roni.
ini apa?! ternyata gue salah ambil jemuran semalam. gue sedih.

entah udah berapa liter peluh yang bisa gue kumpul dari bolak balik kamar-kamar kos di kosan gue, akhirnya gue berhasil mengumpulkan kembali keping-keping baju dan celana gue yang ternyata diambil random temen-temen se kos.

sip! dan gue ready to go!.
sesampainya di rumah Rena, gue kaget. ternyata rumah nya lebih gede dari yang gue ingat terakhir gue datang kesini. dan seperti biasa, wanita cantik berpakaian casual yang menyambut gue dengan senyumnya yang sangat membuat memar hati gue.

"buset! dipanggil makan aja baru kamu datang 15 mnt lebih awal."

"hah? ah kamu ini... aku tersipu malu~"

"bukan pujian dodol!"

dengan cekatan gue mengambil piring dan scan setiap lauk yang ada.
ini ternyata....... lebih dari yang gue harapkan. oh my god! thank you.
berhubung gue datang lebih awal, gue santap lebih awal juga. dan lama kelamaan temen-temen udah mulai muncul dan tiba-tiba Rena buka suara.

" hmm, gak enak disini. ke villa yang di atas aja yuk. lebih asik hihi"

otomatis, kita-kita beranjak pergi ke villa Rena yang deket rumahnya tapi harus menaiki jalan yang bak memanjat tebing saja. tinggi sekali ke atas.

yup, seperti dugaan gue, villa itu sangat indah dengan view-nya yang ajib. membuat malam itu sangat romantis dengan gue yang tengah dilanda kesunyian hati ini.
ternyata malam itu gak berakhir begitu saja...
Rena......
-Bersambung

Sunday, 12 May 2013

Nanas dan Martabak Part IV

04:33 Posted by Unknown No comments
iya! yang selama ini udah gue lupain, yang selama ini udah gak rasain lagi, dan yang selama ini udah gue anggap gak perlu. Itu muncul kembali, memanjat perlahan dari kelamnya jurang hubungan. sampai akhirnya tangan dari hal itu menggapai tepi tebing hati yang udah lama gue lemparkan.

rasa sayang, iya, mungkin itu yang paling pas di keadaan gue sekarang. gue masih takut mengatakan kalo itu cinta. gue gak ngerti dengan cinta. yang gue ngerti dengan cinta, itu adalah ketika ibu kos sangat mencintai menagih uang kos akhir bulan di depan mata gue. itu cinta.
ato ketika si Roni ngasih makan hamster-nya yang pup sana sini, sampe ke baju-baju gue. itu cinta.

secara perlahan gue berusaha nutupin semua itu, gue jalanin hari-hari gue bareng Tere yang bisa dikatakan sangat menyenangkan bagi gue. ada ketika dia pegang tangan gue, ketika dia megang pundak gue, ketika dia bandingkan gue sama foto Jacob twailait disusul dengan foto platypus lagi ngangkang sambil teriak-teriak.

"ahh! mirip! mirip! kamu mirip ini!."

"muka lu mirip! itu foto vulgar gak bergairah gitu, lu bandingin!" tiba-tiba gue kejang-kejang, mulut berbusa.

kalo diibaratkan main DotA, gue kena ultinya Leviathan yang ditusuk dari pantat. itu kejam sekali.

seperti biasa, gue kembali berbaring di ruangan empat  sisi gue yang udah tau lah kenapa.
rasa itu cepet banget bertumbuh, terlalu cepat malahan. gue bingung, pikiran gue yang memang awalnya miring jalannya menjadi susah konsentrasi. temen-temen gue yang pada ngomong hanya menjadi angin lalu sambil mata gue menatap hampa gerakan-gerakan bibir mereka yang entah kenapa gak bisa gue baca lagi. belakangan gue sadar, mereka lagi menghina gue saat itu. entahlah, mereka bejat dari sananya.

semua hari-hari gue, gue merasa aneh. gue kangen sama Tere yang padahal belum menjadi milik gue. gue ngerti suatu kalimat yang berkata.
"Besar pasak daripada tiang!."

bukan! bukan yang itu!, maksud gue tentang jatuh cinta. kenapa gue jatuh cinta? mungkin benar jawabannya adalah ketika hati kita tak sanggup memanggul rindu.

Seperti biasa, gue ke kampus dan seperti biasa juga, gue pergi menemui Tere untuk mengobati rindu gue yang tertahan semu.

"entong, kemana aja kamu? dicariin dari tadi.. uuuuh~" nada manja dari Tere yang membuat gue semangat menjalani hari-hari gue waktu itu.

"ini lagi abis menyelamatkan dunia dari serangan fajar dokter krismon!"

"yeeee, keracunan nonton Saras waktu masih curut yah kamu?"

percakapan awal yang cukup menghidupkan suasana saat itu.
sekali lagi, gue lewatin hari-hari dengan senyum lebar di muka gue, kadang bonyok karena ulah kasur gue yang nyaman sekali. iya, nyaman. *sambil nangis ngomong tentang kenyamanan*

hingga suatu hari gue berpikir untuk menyudahi ini semua. dan gue maju menantang surya!
maksud gue nembak dia. banyak ba-bi-bu yah.

waktu itu, sekitaran jam tiga, kali itu kuliah cukup enteng. Tere juga sama sudah selesai kuliah.
gue pergi ke Tere, kita berduaan, pelukan di ujung kapal. gak, bukan filem titanic!
gue samperin dia, gue tatap matanya. untung aja gue gak juling, jadi cukup intens.

"Tere, sampai waktu lalu gue gak pernah sadar tentang ini, sampai waktu lalu gue gak pernah habis pikir gue bakalan jadi kayak gini. semuanya ini, menimbulkan rasa yang spesial buat kamu. Aku sayang kamu Te..."

itu saja, jantung gue berdegup terlalu kencang saat itu. gue bingung, rasa menunggu setelah mengucapkan hal itu sungguh terasa lama sekali, sampai suasana itu dipecahkan dengan balasan yang gak pernah terbayangkan.

Tere nangis di depan gue.
 sambil tersedu-sedu, dia berusaha bilang sesuatu ke gue.

"aku...... aku......... aku udah lama nunggu Ze..... terlalu lama......  aku lelah nunggu kamu. sebenarnya, baru aja aku mau bilang ke kamu kalo aku di tembak Rio hari rabu lalu...........maaf Ze,  maaf."

dheg! gue tertegun diam. ternyata, selama ini dia nunggu gue dan gue mengulur ini terlalu lama!
gue inget Tere pernah cerita ke gue tentang Rio yang lagi deketin dia. tapi..... tapi...... ini apa?
dada gue sesak, gue susah nafas. sakit banget dada gue. gue pernah rasain kek gini. tapi, ini sakit sekali. gue berusaha nangis, gue gak bisa. air mata gue kering. perasaan gue pernah mati terlalu lama dan baru aja dibangkitkan kembali hanya untuk dibunuh lagi. gue hancur.

"begitu ya Te, maaf gue pernah bareng kamu, maaf gue udah bikin hati kamu gundah.  gue gak akan minta kamu untuk apa-apa. maaf. makasih juga ya."

hanya kalimat itu yang keluar dari mulut gue dengan senyum palsu yang terlalu dipaksakan. gue bodoh. gue hanya bisa pulang, kembali ke kos gue yang akhirnya langsung membuat gue tertidur. mungkin itu karena dada gue yang terlalu menyakitkan.

hari-hari berikutnya gue ke kampus seperti biasa, dan gue masih saling negur sama Tere. tapi gue gak bisa bohong, dada gue sesak tiap kali ketemu dia, itu tambah sakit apalagi waktu ngeliat Tere sama Rio bareng.
 tapi gue mencoba bangkit. gue mencoba mencari hati lain untuk menjadi tempat hati gue berlabuh.


gue seperti biasa, kembali ke kehidupan jomblo gue yang cukup gak wajar tapi tentu aja dengan bekas luka di hati gue.
gue sempat ketemu dengan Tesa, salah satu temen komplek gue yang atraktif.
semuanya berjalan lancar seperti biasa dengan teman-teman yang dungu nan tolol gue.
dan ternyata....

-bersambung.


Thursday, 9 May 2013

Nanas dan Martabak Part III

05:39 Posted by Unknown No comments
"ya? oh Arze, kenapa baru sms sekarang?"

dheg! gue tersentak kaget. ternyata selama ini Tere nungguin sms gue.
mungkin! mungkin dia pemegang kunci melepas kutukan jomblo ganteng gue ini. *sambil menangis berlinang air mata bahagia*

"emm, gak sih. kebetulan mikirin kamu aja."

"ciee, kebetulan lagi mikirin kamu juga. apa kebetulan juga? memangnya kebetulan bisa membentuk kebetulan? apakah kebetulan bisa membuat suatu yang membetulkan?"

gue baca aja bingung. ini mind games ato apa?! mulut gue berbusa mencoba membaca sms ini.

"stop! stop! mulut gue udah muntah lintah dengan makna kata 'betul' sekarang!"

"hahaha, becanda kok, aku juga bingung nulis gitu. haduh"

begitulah. dengan sedikit kalimat sederhana, gue terlarut dalam nge-sms-an sama Tere. dan tanpa gue sadari, jam dinding udah nunjukkin jam 2 pagi! gue keasyikan sms-an plus mata gue tinggal di tahan pake tusuk gigi di masing-masingnya.

"Tere, gue ngantuk. bobo duluan yah. good night, mimpi indah~"

yup, kalimat yang gue gunakan untuk mengakhiri percakapan maya kita berdua malam itu.
dan gue kembali menyongsong tempat tidur yang kenyamanannya berada di tingkat kebangsatan tertinggi. gue tidur dengan senyum, merasa perlahan dewa asmara mulai tersenyum terhadap gue.

gue terbangun tiba-tiba. ternyata dewa alarm gak bisa tersenyum, dia manyun ke muka gue.
gue bangun dengan kantung mata yang bisa gue taro anak kangguru di dalamnya.

dengan cepat gue siap-siap ke kampus, dimana dalam perjalanan ke kelas gue ketemu sosok yang cukup familiar.

"entong! ngapain kamu disini?"

"Te... Tere?! lu kuliah disini? aduh"

hah?! Tere? dia kuliah disini juga? berarti sang dewa asmara sudah tertawa sama gue. iya, malam itu gue lupa tanya dia kuliah dimana. ternyata, dunia ini hanyalah selebar daun kolor! eh, kelor maksudnya.

"iya. kamu juga? wah kebetulan sekali. hihi" sambil menonjolkan di kata 'kebetulan'.

"pala gue capek dengerin itu, berbusa di muka umum gue ntar. kok gue baru liat lu?"

"ho oh, gue baru pulang liburang bareng nyokap."

"wah, tau gitu gue nitip deh. yang bagus-bagus hehe"

"nitip apa? batagor mau? " balas Tere dengan enteng. iya, enteng sekali.

begitulah, percakapan pagi itu mengakibatkan hal yang fatal bagi gue. gue terlambat datang bulan. eh, bukan! gue terlambat masuk kelas. penjelasan dosen pagi itu seperti angin lalu di kepala gue. kepala gue dipenuhi muka Tere, iya gue bingung kenapa. dan pagi itu juga gue dapet C, hasil ujian mendadak si dosen yang gue anggap angin lalu. sungguh menyedihkan.

kuliah selesai.
gue nungguin Tere di depan fakultas dia. Dan tiba-tiba hal yang gak wajar muncul. gue liat dua homo gandengan tangan! eh bukan! maksud gue di balik dua homo itu. yup, si gadis menarik yang menghancurkan harga diri gue dan bikin gue diketawain om-om penjaga depot yang tidak bergairah hidup.

dan gue bingung, cewek di sebelah gadis itu ternyata Tere! mereka kenal satu sama lain ternyata. ahh, gue bingung. dewa asmara tertawa terbahak-bahak di muka gue. itu berlebihan!.
dengan tiga detik gue berpikir, gue samperin Tere dan gadis itu.

"hei Tere!"

"eh, 'betul'. ngapain kamu kesini?"

"gue punya nama neng! mau kemana lu?"

"eh ini, temen aku. Nia namanya. mau kenalan gak kamu?"

 ini.....ini...... waw. ternyata gue bakalan kenalan dengan si gadis penghancur harga diri gue. dengan gentle gue kasih tangan gue bersama senyum cetar membahana menantang badai, menenggelamkan titanic. dan baru saja gue mau keluarin kata-kata awal gue, ternyata dia ngeluarin kalimat duluan.

" oh kamu, yang "kamu nulis juga ya?" yang di depot kemaren kan?"

jleg, harga diri gue jatuh lagi. kali ini terjerembab mungkin. dengan senyum awkward gue mencoba me-recovery situasi.

"hehehe, iyah, heheh. gue Arze. Nia kan? hehe"

"oh," sembari menganggukan kepala nya naik turun dua kali. iya, dua kali aja gak banyak-banyak ntar gue kira anak singa mau netek.

"ini kita mau ke gramedia, mau beli sesuatu. kamu mau ikutan? hmm?"

bedehh, daripada gak ada kerjaan, langsung ke kost. adanya tidur ato gak duduk-duduk di sudut blok makan di tukang sate gerobak keliling yang besoknya bikin gue diare mendingan ngikut deh.

"ohh, ho oh. gue ikutan"

ternyata Tere cukup mengasyikkan buat gue. Nia juga tipe yang sangat melankolis tapi entah kenapa menarik bagi gue. gue gak nyangka sejak saat itu gue jadi deket sama Tere.
hari berganti hari. gak gue sadarin gue semakin deket sama dia. yang akhirnya gue sadar di titik akhir tentang hal yang baru ini di diri gue. ternyata...

-bersambung.

Sunday, 5 May 2013

Nanas dan Martabak Part II

07:39 Posted by Unknown No comments
  dan gue kaget, ketika gue palingkan muka gue dan mata gue merem melek kesilauan, gue bingung ada cahaya darimana ini. 'apakah ini sudah saatku Tuhan?' kata-kata itu melontar begitu saja tanpa sadar dari mulut gue.
  'ngomong apaan sih lu? eh, masih inget gue?' sindir si bidadari itu. gue berpikir sejenak sambil perlahan mengusap mata karena silau yang mata gue alamin. 'ehmmm, serafim? persephone? aphrodite? maaf hanya itu bidadari-bidadari legenda yang gue kenal'.
   'hihi, apaan sih? ini aku, Tere. kita sekelas waktu smp kelas 9' balasnya. what? Tere si kurus waktu smp? gimana gayanya bisa secakep ini? apakah gue lewatin bidadari tanpa selendang lewat selama ini?.
  itulah pikiran gue selama sekian detik gue termenung mengingat masa lalu. ' Wah, Tere! gue pikir Tuhan ngirimin salah satu malaikat-Nya dateng temenin gue makan.' langsung gue lancarkan first-aid  dalam keadaan 'mendesak' .
  ' hahaha, dasar tukang gombal! kebiasaan lu! haha' tawa yang menghiasi malam gue waktu itu sangat melekat di telinga gue,
dan kami berbincang dengan asik malam itu yang bikin gue kenal lagi sosok misterius yang dinamakan time-warping. waktu serasa berlalu dengan sangat cepat saat itu. sebelum bunyi if tomorrow never comes handphone gue bunyi disusul suara misterius kayak di filem-filem thriller gitu
   'woi muka palsu! belom mau cabut lu?' teriak si Bryan merusak suasana afdol gue sama Tere . 'entar bego! gue lagi ada 'aktifitas' disini' bales gue dengan suara Tom Cruise.
  'Tere, ini gue udah mau cabut, lu gimana?'
 'aku mau pulang bareng temen juga kok, hihi'
pas gue liat dia lagi pegang handphone, langsung aja gue bilang 'eh, itu BB lu keren ya, lebih keren lagi kalo nyimpen nomer gue di kontak ntu hape.'
 'hihi, oh iya lu ketik sndiri ya, nih.' kata Tere sambil menyodorkan hapenya ke gue yang kayak lagi nyodorin piso balista. ya udah, gue ketik nomer gue disitu. gue balikin, eh berapa detik kemudian ringtone sakti gue bunyi trus langsung mati gitu. buset, gak niat amat ni orang nelpon gue. pikir gue.

 ternyata nomor gak gue kenal dan ketika gue liat wajah Tere, ada senyum kecil di mukanya sambil bibirnya bilang 'itu nomor aku, biar hape kamu tambah keren ada nomer aku di kontak kamu. hihi' disusul tawa kecil dari dia yang benar-benar merobek akal sehat gue malam itu.


  mata gue gak bisa terlelap, bibir gue gak bisa berhenti senyum dengan sendirinya, ingus gue gak berhenti meleleh dari hidung gue, bulu mata gue gak berhenti jatuh, sayang ibu kos gue gak bisa berhenti juga nagih uang kos akhir bulan.
 wajahnya menghiasi pikiran gue malam itu saat gue berbaring di kamar kos gue yang cukup terfasilitasi. padahal gak punya dispenser.

 besoknya gue berangkat ke kampus.
 gue yang masih tergolong mahasiswa freshman tiba-tiba kaget liat ada satu cewek yang entah kenapa sangat menarik buat gue tapi gue gak tau kenapa dan ternyata kita sekelas. dan waktu mulai pelajaran, gue lupa bawa ATM (alat tulis menulis maksudnya).
ya udah gue lari-lari dengan cepat ke depot kampus, gue berlari seakan mengejar matahari. dan tiba di depot yang indah namun sayang di sambut om-om dengan muka cemberut kek habis digarap orang sekampung semalam dia.
 'itu pulpen, aku ambil satu om.' tiba-tiba ada suara yang sangat lembut ngomong ke om-om yang sangat uuuuuh, tidak bergairah hidup. ternyata cewek yang gue liat tadi, yang entah kenapa sangat menarik di mata gue. gue speechless, gue pengen kenal sama dia. dan pick-up line yang keluar dari mulut gue yang indah ini adalah...
 'eh, kamu nulis juga ternyata.' whaaaaatt??!! kalimat pembuka terburuk yang entah kenapa keluar dari bibir gue. segera gue pengen recover dari situasi awkward itu dengan senyum yang cetar membahana ke cewek itu, tapi ternyata.
 'huh? bukan urusan kamu!' balas cewek itu dengan tatapan yang merendahkan. gue hancur saat itu, serasa harga diri gue berada di game hangman. dan ditambah lagi, si om-om yang tak punya passion dalam hidup akhirnya tertawa. ya! ketawain gue!.

 sampe di kos, gue berbaring di kasur gue yang nyaman. gue bohong, kasurnya bangsat banget. dan gue inget nomor di kontak hape gue. iya, Tere!
gue coba sms-in si Tere.
'hei, Tere? ini gue Arze'.
-bersambung.