Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Thursday, 9 May 2013

Nanas dan Martabak Part III

05:39 Posted by Unknown No comments
"ya? oh Arze, kenapa baru sms sekarang?"

dheg! gue tersentak kaget. ternyata selama ini Tere nungguin sms gue.
mungkin! mungkin dia pemegang kunci melepas kutukan jomblo ganteng gue ini. *sambil menangis berlinang air mata bahagia*

"emm, gak sih. kebetulan mikirin kamu aja."

"ciee, kebetulan lagi mikirin kamu juga. apa kebetulan juga? memangnya kebetulan bisa membentuk kebetulan? apakah kebetulan bisa membuat suatu yang membetulkan?"

gue baca aja bingung. ini mind games ato apa?! mulut gue berbusa mencoba membaca sms ini.

"stop! stop! mulut gue udah muntah lintah dengan makna kata 'betul' sekarang!"

"hahaha, becanda kok, aku juga bingung nulis gitu. haduh"

begitulah. dengan sedikit kalimat sederhana, gue terlarut dalam nge-sms-an sama Tere. dan tanpa gue sadari, jam dinding udah nunjukkin jam 2 pagi! gue keasyikan sms-an plus mata gue tinggal di tahan pake tusuk gigi di masing-masingnya.

"Tere, gue ngantuk. bobo duluan yah. good night, mimpi indah~"

yup, kalimat yang gue gunakan untuk mengakhiri percakapan maya kita berdua malam itu.
dan gue kembali menyongsong tempat tidur yang kenyamanannya berada di tingkat kebangsatan tertinggi. gue tidur dengan senyum, merasa perlahan dewa asmara mulai tersenyum terhadap gue.

gue terbangun tiba-tiba. ternyata dewa alarm gak bisa tersenyum, dia manyun ke muka gue.
gue bangun dengan kantung mata yang bisa gue taro anak kangguru di dalamnya.

dengan cepat gue siap-siap ke kampus, dimana dalam perjalanan ke kelas gue ketemu sosok yang cukup familiar.

"entong! ngapain kamu disini?"

"Te... Tere?! lu kuliah disini? aduh"

hah?! Tere? dia kuliah disini juga? berarti sang dewa asmara sudah tertawa sama gue. iya, malam itu gue lupa tanya dia kuliah dimana. ternyata, dunia ini hanyalah selebar daun kolor! eh, kelor maksudnya.

"iya. kamu juga? wah kebetulan sekali. hihi" sambil menonjolkan di kata 'kebetulan'.

"pala gue capek dengerin itu, berbusa di muka umum gue ntar. kok gue baru liat lu?"

"ho oh, gue baru pulang liburang bareng nyokap."

"wah, tau gitu gue nitip deh. yang bagus-bagus hehe"

"nitip apa? batagor mau? " balas Tere dengan enteng. iya, enteng sekali.

begitulah, percakapan pagi itu mengakibatkan hal yang fatal bagi gue. gue terlambat datang bulan. eh, bukan! gue terlambat masuk kelas. penjelasan dosen pagi itu seperti angin lalu di kepala gue. kepala gue dipenuhi muka Tere, iya gue bingung kenapa. dan pagi itu juga gue dapet C, hasil ujian mendadak si dosen yang gue anggap angin lalu. sungguh menyedihkan.

kuliah selesai.
gue nungguin Tere di depan fakultas dia. Dan tiba-tiba hal yang gak wajar muncul. gue liat dua homo gandengan tangan! eh bukan! maksud gue di balik dua homo itu. yup, si gadis menarik yang menghancurkan harga diri gue dan bikin gue diketawain om-om penjaga depot yang tidak bergairah hidup.

dan gue bingung, cewek di sebelah gadis itu ternyata Tere! mereka kenal satu sama lain ternyata. ahh, gue bingung. dewa asmara tertawa terbahak-bahak di muka gue. itu berlebihan!.
dengan tiga detik gue berpikir, gue samperin Tere dan gadis itu.

"hei Tere!"

"eh, 'betul'. ngapain kamu kesini?"

"gue punya nama neng! mau kemana lu?"

"eh ini, temen aku. Nia namanya. mau kenalan gak kamu?"

 ini.....ini...... waw. ternyata gue bakalan kenalan dengan si gadis penghancur harga diri gue. dengan gentle gue kasih tangan gue bersama senyum cetar membahana menantang badai, menenggelamkan titanic. dan baru saja gue mau keluarin kata-kata awal gue, ternyata dia ngeluarin kalimat duluan.

" oh kamu, yang "kamu nulis juga ya?" yang di depot kemaren kan?"

jleg, harga diri gue jatuh lagi. kali ini terjerembab mungkin. dengan senyum awkward gue mencoba me-recovery situasi.

"hehehe, iyah, heheh. gue Arze. Nia kan? hehe"

"oh," sembari menganggukan kepala nya naik turun dua kali. iya, dua kali aja gak banyak-banyak ntar gue kira anak singa mau netek.

"ini kita mau ke gramedia, mau beli sesuatu. kamu mau ikutan? hmm?"

bedehh, daripada gak ada kerjaan, langsung ke kost. adanya tidur ato gak duduk-duduk di sudut blok makan di tukang sate gerobak keliling yang besoknya bikin gue diare mendingan ngikut deh.

"ohh, ho oh. gue ikutan"

ternyata Tere cukup mengasyikkan buat gue. Nia juga tipe yang sangat melankolis tapi entah kenapa menarik bagi gue. gue gak nyangka sejak saat itu gue jadi deket sama Tere.
hari berganti hari. gak gue sadarin gue semakin deket sama dia. yang akhirnya gue sadar di titik akhir tentang hal yang baru ini di diri gue. ternyata...

-bersambung.

0 comments:

Post a Comment