Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Sunday, 12 May 2013

Nanas dan Martabak Part IV

04:33 Posted by Unknown No comments
iya! yang selama ini udah gue lupain, yang selama ini udah gak rasain lagi, dan yang selama ini udah gue anggap gak perlu. Itu muncul kembali, memanjat perlahan dari kelamnya jurang hubungan. sampai akhirnya tangan dari hal itu menggapai tepi tebing hati yang udah lama gue lemparkan.

rasa sayang, iya, mungkin itu yang paling pas di keadaan gue sekarang. gue masih takut mengatakan kalo itu cinta. gue gak ngerti dengan cinta. yang gue ngerti dengan cinta, itu adalah ketika ibu kos sangat mencintai menagih uang kos akhir bulan di depan mata gue. itu cinta.
ato ketika si Roni ngasih makan hamster-nya yang pup sana sini, sampe ke baju-baju gue. itu cinta.

secara perlahan gue berusaha nutupin semua itu, gue jalanin hari-hari gue bareng Tere yang bisa dikatakan sangat menyenangkan bagi gue. ada ketika dia pegang tangan gue, ketika dia megang pundak gue, ketika dia bandingkan gue sama foto Jacob twailait disusul dengan foto platypus lagi ngangkang sambil teriak-teriak.

"ahh! mirip! mirip! kamu mirip ini!."

"muka lu mirip! itu foto vulgar gak bergairah gitu, lu bandingin!" tiba-tiba gue kejang-kejang, mulut berbusa.

kalo diibaratkan main DotA, gue kena ultinya Leviathan yang ditusuk dari pantat. itu kejam sekali.

seperti biasa, gue kembali berbaring di ruangan empat  sisi gue yang udah tau lah kenapa.
rasa itu cepet banget bertumbuh, terlalu cepat malahan. gue bingung, pikiran gue yang memang awalnya miring jalannya menjadi susah konsentrasi. temen-temen gue yang pada ngomong hanya menjadi angin lalu sambil mata gue menatap hampa gerakan-gerakan bibir mereka yang entah kenapa gak bisa gue baca lagi. belakangan gue sadar, mereka lagi menghina gue saat itu. entahlah, mereka bejat dari sananya.

semua hari-hari gue, gue merasa aneh. gue kangen sama Tere yang padahal belum menjadi milik gue. gue ngerti suatu kalimat yang berkata.
"Besar pasak daripada tiang!."

bukan! bukan yang itu!, maksud gue tentang jatuh cinta. kenapa gue jatuh cinta? mungkin benar jawabannya adalah ketika hati kita tak sanggup memanggul rindu.

Seperti biasa, gue ke kampus dan seperti biasa juga, gue pergi menemui Tere untuk mengobati rindu gue yang tertahan semu.

"entong, kemana aja kamu? dicariin dari tadi.. uuuuh~" nada manja dari Tere yang membuat gue semangat menjalani hari-hari gue waktu itu.

"ini lagi abis menyelamatkan dunia dari serangan fajar dokter krismon!"

"yeeee, keracunan nonton Saras waktu masih curut yah kamu?"

percakapan awal yang cukup menghidupkan suasana saat itu.
sekali lagi, gue lewatin hari-hari dengan senyum lebar di muka gue, kadang bonyok karena ulah kasur gue yang nyaman sekali. iya, nyaman. *sambil nangis ngomong tentang kenyamanan*

hingga suatu hari gue berpikir untuk menyudahi ini semua. dan gue maju menantang surya!
maksud gue nembak dia. banyak ba-bi-bu yah.

waktu itu, sekitaran jam tiga, kali itu kuliah cukup enteng. Tere juga sama sudah selesai kuliah.
gue pergi ke Tere, kita berduaan, pelukan di ujung kapal. gak, bukan filem titanic!
gue samperin dia, gue tatap matanya. untung aja gue gak juling, jadi cukup intens.

"Tere, sampai waktu lalu gue gak pernah sadar tentang ini, sampai waktu lalu gue gak pernah habis pikir gue bakalan jadi kayak gini. semuanya ini, menimbulkan rasa yang spesial buat kamu. Aku sayang kamu Te..."

itu saja, jantung gue berdegup terlalu kencang saat itu. gue bingung, rasa menunggu setelah mengucapkan hal itu sungguh terasa lama sekali, sampai suasana itu dipecahkan dengan balasan yang gak pernah terbayangkan.

Tere nangis di depan gue.
 sambil tersedu-sedu, dia berusaha bilang sesuatu ke gue.

"aku...... aku......... aku udah lama nunggu Ze..... terlalu lama......  aku lelah nunggu kamu. sebenarnya, baru aja aku mau bilang ke kamu kalo aku di tembak Rio hari rabu lalu...........maaf Ze,  maaf."

dheg! gue tertegun diam. ternyata, selama ini dia nunggu gue dan gue mengulur ini terlalu lama!
gue inget Tere pernah cerita ke gue tentang Rio yang lagi deketin dia. tapi..... tapi...... ini apa?
dada gue sesak, gue susah nafas. sakit banget dada gue. gue pernah rasain kek gini. tapi, ini sakit sekali. gue berusaha nangis, gue gak bisa. air mata gue kering. perasaan gue pernah mati terlalu lama dan baru aja dibangkitkan kembali hanya untuk dibunuh lagi. gue hancur.

"begitu ya Te, maaf gue pernah bareng kamu, maaf gue udah bikin hati kamu gundah.  gue gak akan minta kamu untuk apa-apa. maaf. makasih juga ya."

hanya kalimat itu yang keluar dari mulut gue dengan senyum palsu yang terlalu dipaksakan. gue bodoh. gue hanya bisa pulang, kembali ke kos gue yang akhirnya langsung membuat gue tertidur. mungkin itu karena dada gue yang terlalu menyakitkan.

hari-hari berikutnya gue ke kampus seperti biasa, dan gue masih saling negur sama Tere. tapi gue gak bisa bohong, dada gue sesak tiap kali ketemu dia, itu tambah sakit apalagi waktu ngeliat Tere sama Rio bareng.
 tapi gue mencoba bangkit. gue mencoba mencari hati lain untuk menjadi tempat hati gue berlabuh.


gue seperti biasa, kembali ke kehidupan jomblo gue yang cukup gak wajar tapi tentu aja dengan bekas luka di hati gue.
gue sempat ketemu dengan Tesa, salah satu temen komplek gue yang atraktif.
semuanya berjalan lancar seperti biasa dengan teman-teman yang dungu nan tolol gue.
dan ternyata....

-bersambung.


0 comments:

Post a Comment