Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Sunday, 11 January 2015

Bundar Tak Bersisi II

10:06 Posted by Unknown No comments
“ selamat pagi, Saya Arianti. Dari SMP Selera Dunia “ ucap gadis itu tenang.  Tentu saja asal sekolahnya aku samarkan untuk menghindari jika saja terjadi pemboman nuklir di sekolahnya. Suara gadis itu lembut. Dengan tenang ia memperkenalkan dirinya namun, untuk saat berikutnya dia menarik nafasnya ketika kakak osis menanyakan tentang hobi.

“hobimu apa Arianti?” Tanya kakak OSIS penasaran.
“hmmm…. Itu….” Arianti mulai tidak tenang, dia melihat sekeliling dengan ragu – ragu.
“saya hobi bermain game.” Jawabnya pelan namun terdengar seisi kelas.
“game ? game apa?” Tanya kembali kakak OSIS.
“game online…” jawab Arianti.

Seketika kegaduhan terjadi di kelas. Para lelaki mulai bersorak di tempat meriang – riang hebat hingga menjahit bibir dan unjuk rasa. Memaksa para kakak OSIS untuk melemparkan gas air mata ke dalam ruangan kelas. Mengapa tidak? Seorang gadis cantik yang hobi bermain game online adalah bagian dari 90% fantasi lelaki. Dan hal demikian jarang sekali terjadi, apalagi diakui oleh seorang gadis didepan umum.
Namun saying, ketika ditanya game apa yang Arianti mainkan dia menjawab AyoDance. Beberapa lelaki kecewa berat dan undur diri dari situ. Aku pun demikian, tapi ingin kutanyakan berapa yang telah Arianti habiskan dalam game bodoh tersebut. Dan terang saja, lima juta lebih telah dihabiskan untuk game perusak generasi itu oleh Arianti. Aku hanya terdiam membisu. Syukur saja mulutku tidak berbusa tiba – tiba.

Giliranku tiba. Dengan sigap, aku pun memberanikan diri.
“Saya Dino. Dari SMP Ember Rese” jawabku.
 Aku bingung dengan hobiku. Aku tak memiliki hobi khusus pada saat itu. Aku tak tahu apa yang aku sukai. Tapi, berhubung aku tahu berenang dan cukup menyenangkan berada di air namun kampretnya gosong terbakar matahari, aku berketa berenang sebagai hobiku. Dan ya, aku disuruh berenang di kelas. Yasudah aku berenang saja gaya dada layaknya penguin idiot yang coba menyangkal realita.

==
Waktu perkenalan telah selesai. Arianti masih jadi perbincangan diantara lelaki hingga waktu istirahat. Aku berbincang dengan Elli teman SD ku di depan kelas yang tiba – tiba kami didatangi pria misterius.

“Hey Dino! Gimana ‘kalian muka penjahatnya’ ?” teriak pria misterius itu.
“WTF?! Lu siapa? Gak kenal gua, main high-five tiba – tiba” pikirku, karena aku tak mengenal laki – laki ini. Tapi, aku melihatnya ketika MOS menyanyi di depan. Tapi karena kebetulan aku diajarkan tata karma, ya kusapa dia.
“oh Hey!” kataku ramah tapi bingung.
“oh , aku Ken. Gue denger kasus lo dari temen – temen. Haha”
Oh ya, ketika MOS aku disidang kakak – kakak OSIS karena ketika mereka menyuruh untuk bertugas tapi tas ditinggalkan, aku bilang ke mereka “ah gak percaya gua, muka – muka penjahat semua” ketika tugas diselesaikan, namaku dipanggil untuk menemui mereka. Dan yap! Aku disidang oleh OSIS. Aku hanya diam, aku bukan orang yang suka peduli dengan orang lain. Aku memilih untuk diam dan tunggu segala omong kosong mereka untuk berlalu. Mulutku memang ceplas – ceplos. Dan aku cukup hebat dalam adu menghina. Karena itu juga, aku terlibat beberapa perkelahian ketika SMP. Namun aku janji  untuk mengurangi mulutku saat aku memasuki SMA.

Sepertinya kasusku cukup diketahui beberapa orang di kelas X. aku juga sadar kalo ini si Ken itu, dia pacarnya Elli dan kami bertiga berasal dari SMP yang sama. Hanya saja, SMP kami memiliki semacam dua divisi, dengan dua kepsek yang berbeda juga. Aku berasal dari Ember Rese 1 namun Elli dan Ken dari Ember Rese 2. Ken memiliki postur yang kurang lebih sama denganku. Namun, seragamnya rapih, cara berpakaiannya rapih. Dengan kacamata, Ken terlihat seperti siswa teladan dan dia cukup terkenal cause this guy can sing. And I mean a real good singer. jadi, aku berpikir bahwa Ken adalah siswa baik – baik, dan teladan bagi semua lainnya. Hingga ternyata kita sekelas, dan ternyata laki – laki ini selaras dengan kami.he has the same fucked up mind like we do dan kadang, lebih iblis dari kita. Membuat kita bertemain baik pada akhirnya.

==
Pembagian kelas telah diumumkan. Aku menempati kelas yang katanya dengan nilai – nilai test yang tinggi. Kelas terakhir, G. struktur kelas dibagi dari yang ‘pintar’ hingga ‘klinik’ dari G hingga A. kelas E-F-G menjadi kelas yang katanya khusus anak – anak pintar. Makanya aku berada di kelas dengan jumlah laki – laki 9 orang saja. Termasuk aku, Ken, dan yang lainnya ternyata lelaki laknat seperti kita juga.
 Padahal ketika test, aku memang cukup baik dalam Bahasa inggris sementara matematika aku hanya memanggil jelangkung dan kemampuan mata elang dan mulut suci yang kuasah sejak lama.
 Sekedar melihat, ternyata aku sekelas dengan gadis itu…






Saturday, 27 December 2014

Bundar Tak Bersisi

08:09 Posted by Unknown No comments
“sisir! Mana sisir??!!”

Pagi itu gusar. Aku kebingungan mencari sisir yang jarang sekali kupakai seumur hidupku.
Kenapa? Karena pagi ini aku menerima orientasi SMA, kalangan anak keren biasa memanggilnya MOS, bukan dari domestos noMOS. Para siswa baru khususnya yang memiliki batang di antara selangkangan, diwajibkan untuk membelah tengah rambut mereka. Rambut panjang ataupun pendek. Rambut cepak cukup membelah tengah kepalanya saja.
Untuk membelah rambutku yang memiliki panjang medium, seonggok gatsby kupakai hingga rambutku mampu terbelah layaknya laut teberau.
Disusul pencarian sisir yang menggusarkan keadaan rumah pagi itu.

 Untungnya sisir tersebut mudah didapat, tersembunyi didalam laci kecil di lemari kamar yang tersegel dengan mantera penyegel tujuh musim, dan tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Sisir yang sangat kuat sehingga tiap elusan dari sisir tersebut, mampu membuatku terdiam menggelinjang nikmat.

==

Sesampainya di depan sekolah, terdapat bermacam – macam grup remaja alay yang tak mampu memasuki sekolah. Mereka hanya diam. Duduk di depan gerbang sekolah. Mereka terlihat lesu tak bisa memasuki sekolah.

“ya iyalah mangkal di depan. Orang gerbang nya aja gak dibuka.” Kataku sambil menepuk jidat.

Aku memerhatikan tiap grup remaja yang ada disana.
Beberapa dari mereka ada yang berkumpul dengan canggung.
Ada yang berkumpul latihan pasang muka sangar.
Ada yang bahkan hanya berdiri, melotot, dan bingung. Untungnya tidak mengangkang.
Dan yang terakhir ada grup terbesar, sekitar 75% siswa berkumpul di situ.
Aku pun melangkah maju ke grup yang paling besar tersebut. Melangkah pasti tanpa ada keraguan sedikitpun. Mereka adalah makhluk – makhluk yang sudah kukenal sejak SMP.
Sekolah ku memiliki TK, SD , SMP , SMA hingga STIE dibawah nama satu yayasan. Aku sudah bersekolah disitu sejak SD, beberapa dari temanku bahkan ada yang sudah disitu sejak TK. Jadi sebagian besar dari mereka bukanlah orang asing bagiku.

“OI! Din! DINOO sini! “ teriak satu siswa dari grup tersebut.
“tono, loh kok lu lagi disini?” balasku.
“lah elu, katanya masuk SMA XX” tanya Rudy
“ah males, tes nya ribet. Kok lu lagi sih? Bosen gue liat muka lu” jawab ku meriang.
“yadisini aja! Mo kemana lagi nyet?” balas Rudy dan Tono
“kenapa gak SMA seven aja lo?” tanya Tono ke Rudy
“mau gua jadi kenek angkot lo?” balas Rudy
“ya iya, kan mukalu dibawah garis kemiskinan” tambah ku.

“ah gimana sih. Lu lagi, lu lagi , lu lagi. Nanti lu pada mau dikubur disebelah sekolah ya?” tanya teriak Ivan ketika melihat kita berbincang.
“lah, kan udah sedia kapling di belakang SD van” balasku
“eh mulutlu boker kuda. Eh eh Dino, liat cewek itu gak? Mirip banget sama Reva ya?”
Bisik ivan kepadaku.

Reva adalah gadis manis yang duduk sebangku denganku semasa kelas 9, dia adalah salah satu teman baikku kala itu. Reva senang memakai contact lens. Katanya, itu lebih baik daripada dia memakai kacamata. Lensanya pun bervariasi tapi biasanya, bening dan abu – abu yang sering Reva pakai. Aku selalu memaksanya untuk memakai lensa berwarna merah supaya aku bisa mengaku berteman dengan klan uchiha.
Sayangnya, dia memilih SMA yang lain. Impianku untuk mengaku sebagai teman klan uchiha kandas di tengah jalan.
Gadis itu memiliki gaya rambut yang sama, dan aura yang mirip. Hanya saja cara berjalan mereka berbeda.

“loh kok bisa mirip? Tapi sayang…” keluh ku.
“kenapa” tanya makhluk – makhluk astral disekitarku.
“rok nya kepanjangan. Batin gue menangis liat rok dan kemeja yang gak gemesin” crying in latin.
“iya. Sukma gue juga tercabik – cabik” tambah Rudy.
“sukma? Loh bukannya sukma banyak pas ramadhan?” tanya ku penasaran.
“itu KURMA! KURMAAAA!” teriak mereka menggelinjang.


Tanpa sadar, ternyata gerbang telah terbuka. Siswa baru pun berlomba – lomba memasukki gerbang agar tidak kena hukuman alay. Ada yang berlari normal, ada yang berjalan santai, beberapa merangkak bersama, sebagian berjalan dengan mulut, bahkan ngesot.
Hanya untuk melewati MOS yang seperti biasa. Ketika MOS tersebut, kami dibagi kelas sementara berdasarkan urutan abjad nama. Aku mendapatkan kelas A waktu itu.
Kakak – kakak kelas menyuruh untuk memperkenalkan diri dengan nama dan hobi. Kami pun melakukannya. Satu demi satu memperkenalkan diri dan hobi mereka masing- masing. Ada yang mengaku hobi menggambar, namun ketika disuruh untuk menggambar naga di depan, dia menggambar bulatan kecil.
Itu telur naga katanya.
Tunggu seminggu itu akan menetas katanya.
Mendengar itu, beberapa dari kami mulai berencana untuk gantung diri.

Hingga akhirnya tiba giliran seorang gadis.

Dia berdiri…






Monday, 30 June 2014

Permainan Sederhana

09:58 Posted by Unknown No comments
Reza tersentak kaget ketika tidur malamnya terhenti di tengah jalan. Seorang lelaki yang terjebak dalam cemoohan kumpulan manusia dan wanita yang menangis adalah alasan Reza tersentak dari tempat tidurnya.

“itu apa? Siapa?!” hanya itu yang keluar dari mulut Reza.
Reza menggaruk – garuk kepalanya. Berusaha mengingat cerita dari mimpi itu. Entah mengapa semua orang yang ada dalam mimpinya itu berasa sangat familiar, namun terlupakan begitu saja seakan menghilang bersama sentakan tubuh Reza dari tempat tidurnya.


“ah, ingin sekali ku mengetahuinya. Kenapa tak mampu teringat olehku?”
Mengapa Reza berusaha keras untuk mengingatnya?
Ternyata mimpi yang dialami Reza adalah mimpi yang mirip dengan tiga hari sebelumnya. Hanya saja anehnya mimpi itu bersambung malam demi malam walaupun ceritanya samar langsung terlupakan sekali Reza bangun dari cerita alam bawah sadarnya tersebut.
“Lupakanlah.” Gumam Reza pelan.

==

Reza mulai bersiap ke kampus. Gerah sekali baginya mengenakan celana panjang.

Ia membenci celana panjang.

 Ingin sekali baginya pergi kuliah menggunakan celana pendek layaknya anak – anak elektro universitasnya. Tapi sayang, tak semudah yang diharapkan.
Jika Reza melakukan demikian, jari telunjuk nya dosen yang menunjuk ke arah pintu kelas lah yang akan ia temui kala dia bertemu dengan dosen.
“Silahkan anda keluar, ganti celana anda. Dan mungkin saya akan mengijinkan anda masuk kelas”
Perkataan itu adalah mimpi buruk bagi Reza.
==

Hari yang seperti biasanya itu dimeriahkan oleh gadis – gadis cantik yang berada di kelas Reza karena didominasi oleh anak – anak ekonomi. Sedangkan Reza nyasar sebagai anak TI bersama pasukan super minoritas yang hanya beberapa biji saja.


“ndes, noh “ signal Reza ke Cahyo dengan mata penuh kemesuman.

Reza merupakan lelaki normal dengan kemampuan scan mata terhadap wanita – wanita ‘gemes’ yang sangat tinggi. Apalagi ketika gadis – gadis tersebut menggunakan celana yang dijulukinya celana ‘gemes’.
 Mata Reza menyala merah keemasan, kepalanya bergemuruh.

Namun, ada yang aneh dengan Reza.

Tak ada satu pun dari mereka yang menarik baginya. Ngegemesin sih iya.
Seringkali kawannya mengatakan jika Reza adalah seorang yang tak berperasaan.
Hanya senyum yang mampu dilontarkan sebagai balasan kepada kawannya itu.
Reza memiliki perasaan yang beku sejak lama yang hanya sedikit saja yang mampu melelehkan es tersebut, walaupun bersifat sementara.

==

Suatu saat ia diperkenalkan dengan beberapa kawan baru yang ia temui lewat salah satu kawannya.
Anehnya , terdapat satu gadis yang menarik perhatiannya.
Seorang gadis yang bisa dikatakan cukup nakal namun berusaha menapaki jalan yang dianggapnya benar.
Baru kali ini Reza tertarik dengan gadis seperti itu.
Nia.


==

“Lagi dimana?”
“PING!” pesan bbm tiba – tiba masuk ke henfon Reza.

“kos.” Balas Reza.

“ayo kesini, kumpul minum susu”

“minum susu? Lah susumu gimana toh? Memangnya kurang?” balas Reza dengan sopan.

“minum susu bego! Datang sudah!”

“ho”


Sebab kebosanan melanda Reza kala itu, bersiaplah dia untuk datang kumpul minum susu Nia. Eh, minum susu bersama Nia maksudnya.
Tanpa Reza sadari sejak malam itu, hubungan mereka berdua semakin dekat.

Mereka teman dekat sekarang.

Suatu kali Reza dan Nia saling chattingan hingga Reza tak sengaja mengeluarkan gombalan – gombalan basi nya karena iseng.
Dan terkejutnya Reza ketika Nia memberikan umpan balik kepadanya.

Sebuah istilah Teman dekat kini berubah menjadi Teman tapi mesra.

==

PING!!
PING!!
“kamu dimana?”
PING!!

Tiba – tiba celana Reza dipenuhi getaran yang menggetarkan seluruh sukma tubuhnya.

“Di kos! Pung ping pang pung!”

“ke kos dong, aku kesepian nih, belai aku!”

Melihat tulisan pesan seperti itu, dalam kurun waktu kurang dari 5 menit Reza langsung bersiap dan beranjak ke kosnya Nia.
Hanya untuk mendapatkan kekecawaan besar.
di kosnya didapati empat kawan mereka berdua mengemis – ngemis hendak disuapi martabak.

“bangsat!” pikirnya.
Dibalas senyuman licik Nia.

“Beliin martabak gih! Kamu berdua bareng Nia sono!” seru Yano, salah satu teman autis mereka.

Reza dan Nia pun beranjak dengan motor menuju tempat martabak.
Sebuah perbincangan konyol terjadi malam itu.

“tempatnya dimana tante?”

“dihatimu sayang” balas Nia lirih.

“kau tahu kalau disitu selalu menjadi tempatku berteduh, tempat sukma ku bermandikan kasihmu. Tempat jiwaku tersesat.”

“iya, ragamu saja yang kerap menggantungku. aku sudah menunggu”

Reza terdiam.
Baru kali ini ia mendengar jawaban seperti itu dari Nia.
Kali ini dia bingung untuk membalas. Hanya tawa kecil yang Reza keluarkan untuk memecahkan situasi yang canggung itu.

Reza masih mendapati bahwa perasaannya masih beku.
Bukan Dia orangnya.
Baginya, Nia baru saja menekan tombol start untuk bergabung dengan permainan yang ia mainkan.
Menjadi player 2 pada permainan ini.
Reza masih bermain, dia sangat menikmati permainan flirting.
Namun mimpi yang waktu itu masih mengganggu nya, apakah itu kisah masa lalu ataukah suatu cerita yang ingin diceritrakan kepadanya?

“Masa bodoh dengan itu, aku ingin bermain sampai ku puas!” pikir Reza, membulatkan pilihannya.

Reza adalah lelaki yang sangat mencintai permainan. Permainan apapun itu ingin dimainkannya,
Baginya, flirting pun adalah sebuah permainan, dan permainan yang paling mengasyikkan di dunia nyata untuknya.
Peraturannya sederhana.


Siapapun yang jatuh duluan menjadi pihak yang kalah!

Monday, 9 December 2013

Pedang Damocles

11:39 Posted by Unknown No comments
Life is messy. Love is messier. - Catch and Release

sebuah ungkapan kata yang simple namun penuh arti yang bercabang.
ada orang yang mengalami hancurnya hidup.
ada yang mengalami hancurnya cinta.
ada juga yang dalam skala besarnya mengalami hancurnya hidup karena cinta.

kenapa?
apa yang salah dengan ini?

terlalu banyak pendapat - pendapat yang memberatkan posisi pria sebagai seorang pencinta.
hampir selalu saja cocotan cocotan wanita tentang lelaki.
kebanyakan dari mereka selalu mencerca lelaki jika hubungan mereka gagal. mereka menganggap lelaki adalah pusat kesalahan dari gagal nya sebuah hubungan.

sekali - kali coba berpikir, mengapa hubungan kalian gagal.
cowok itu gak perhatian lah, gak romantis lah, ... gak asik lah.....
bukannya kebanyakan cewek yang menuntut lebih dari seorang cowok?

logisnya sih,
udah tau cowoknya punya karakter yang cuek, trus menuntut buat jadi perhatian?
ibaratnya buah mangga yang dituntut berasa sirsak. akal nya dimana coba?

untung nya, cowok pada dasarnya selalu bego.
cowok selalu berusaha menempa dirinya menjadi karakter yang diinginkan wanitanya.
tapi, bukankah sang wanita juga pada awalnya jatuh hati pada prianya karena karakter pria nya juga?

 ==

cinta itu sulit bro.
rasa itu bukan mainan.
gak semua manusia bebas jatuh sana jatuh sini.

mengapa juga disebut jatuh cinta?

pernah dengar cerita pedang damocles?
damocles yang diijinkan merasakan keweahan dan kenikmatan seorang raja, namun sang raja dionysius menggantungkan pedang yang hanya diikat dengan satu rambut kuda.

bukankah cinta tak jauh berbeda dengan itu?
seorang yang jatuh cinta menikmati indahnya dan asiknya cinta, namun tanpa sadar memiliki pedang damocles yang tergantung di atas mereka masing - masing.
tergantung dengan manisnya.
menunggu titik dimana pedang itu jatuh dan menusuk tiap inci dari tubuh orang tersebut.

 dan saat ini, pedangku telah menemukan titik tersebut.

 ==

aku tau dengan hukum tabur tuai, dimana apa yang kita tabur itu yang akan kita tuai.
dan kali ini pedang damocles ku berbentuk keris yang memiliki tikungan tajam.

 ==

yang dekat aja bisa remuk, apalagi yang jauh?

makanya pasangan - pasangan LDR yang sukses sangatlah eksepsional bagiku.
merekalah pria - pria dan wanita dengan komitmen. yang berpegang dengan prinsip dan mampu membatasi diri.

untuk mereka yang balik arah dan mundur?
menyedihkan.

dan saat pedang damocles ku jatuh menusukku, saat itu juga aku tau.
bagaimana sebuah pedang bisa sangat menyakitkan.

kata maaf? permintaan untuk tidak membenci?

aku bahkan tak ingin melihat mukanya lagi.

  ==

namun ada saatnya dimana aku mampu mencabut pedang yang tertusuk tersebut, memberi tetesan Lucy's potion  dan memulai menggantung pedang itu kembali ke atas ku.

--







 












Monday, 18 November 2013

Nanas dan Martabak Last.

06:31 Posted by Unknown No comments
yup gue terhanyut dalam indah nya romansa dan nuansa dalam sebuah hubungan sakral.
ehm... gak sakral sih, dasar pendusta!.

sebuah hubungan dengan Rena terasa cukup menyenangkan bagi gue yang lagi lope lope. hanyut dalam derasnya arus cinta yang mungkin akan membawaku ke titik dimana air terjun berada. kalimat ini bernada ambigu sebenarnya.

"hai sayang..." gue mengatakn itu sambil tertawa geli sembari kegelian muntah udah di tenggorokan.
kealayan yang menyenangkan. mungkin sejak itu yang membawa sindrom alay gue kebawa sampe sekarang. saya insaf mbah.. insaf! *cpruuutttt

"hai juga sayang..."

ups, balasan yang sama menggelikannya namun di satu sisi membawa kebahagiaan yang tak kasat mata bagi nuraniku, mengobati tiap luka sukmaku dan memberi harapan baru bagi gelapnya ruang hati yang kehilangan cahaya setelah sekian lama.

yup, suara yang membuat eargasm pada gue kala itu.
suara manis nan menyenangkannya Rena... cieee yang lagi jatuh cinta~

"lagi dimana?" tanya gue penasaran.

"ini lagi di mall, nyari barang" kebutuhan"

"kebutuhan apa? ngantri sembako di mall sekarang ya?! wah canggih sekali." kata gue dengan tingkat kepedean melebihi jumlah planet di alam semesta.

"kagak begoo, lagi beli softex! emang kamu mau nitip dibeliin sama aku juga?"

"ho oh, beliin satu ya! yang pake 'sayap' nya"

dan besok sorenya gue dikasih tas plastik item di kampus berisi satu pak charm body fit exra wing untuk perlindungan bagian samping. gue kena hukuman sosial hari itu juga.

bergegas gue nyari Rena ke kelasnya dengan tergesa - gesa menyimpan rapi barang yang bukan untuk lelaki sejati tersebut kedalam ruang paling dalam hatiku. eh salah! ruang paling dalam dan paling tersembunyi dari tas mahalku yang seharga lima es cendol.
terkadang gue bingung kenapa tangan ini selalu menuliskan hal yang tidak perlu dari tubuhku yang indah ini. gue bohong.

"hoi nyonya! lihat perbuatanmu! mengapa benda ini ada di mejaku?!" tanya gue ke Rena.
"hei laki-laki! kamu yang minta itu kan? ya aku kasih aja, bleee" jawab nya simpel ditutup Rena yang menjulurkan lidah yang anehnya membuat gue meleleh kala itu.
"buset dah, gak lu tambahin kiranti datang bulan juga sekalian?" balas gue sedikit kesal.

dan besoknya lagi gue dapati dua botol kiranti datang bulan di meja gue dengan secarik kertas kecil tertempel di kedua botol tersebut dengan tulisan :


" minumnya yang teratur ya sayang, biar nyeri nya gak berlebihan plus cepet ilang :p "


dan hari itu juga membuat gue belajar akan kejamnya seorang wanita.

sorenya, seperti biasa gue menghabiskan waktu dengan wanita gue. yup, senang rasanya gue mampu menyebut kata itu, walaupun ada sedikit perih yang datang bersama kata yang kuucapkan itu.

"lu mau beli apa? abang bayarin deh!" sok gue ketika masuk mall bareng Rena.
"ealah, gayamu bang, horror banget, emang aku perlu dibayarin kamu hmm?" rena membalas kalimat gue dengan senyum sinis menghina sambil disusul tawa mungil dari mulutnya.
"eh songong! songong!" cuma kalimat itu yang bisa gue balas ke Rena ketika melihat keadaan dompet gue yang sangat busung lapar. iya gendut perutnya karena full sama recehan.
 saat itu gue melihat tali tergantung, ingin rasanya memasukkan kepala gue ke dalam lingkaran tali itu.

 kita masuk ke bioskop membeli tiket yang syukurnya masih mampu gue beli untuk berdua.sebuah tiket film sherlock holmes.
sepanjang film berjalan gak kerasa sepasang lengan tengah merangkul lenganku.
bioskop adalah tempat menyenangkan bagi gue.
dengan senyum menyeringai gue mengatakan hal itu selesai film yang gue tonton bareng Rena.

kita kembali berjalan, kali ini ditambah bergandengan tangan seperti film film romantis yang ada di pasaran. iya, pasaran. maksudku memang pasaran.

kita masuk ke sebuah rumah makan, dan kita mengambil tempat duduk.
Rena mengambil tempat duduk disamping gue.

"gak Ren, jgn duduk situ. di depan gue aja hehe"
"lah emang kenapa?"
"udah duduk aja sayaang~" kata gue memelas.

karena bagi gue gak enak buat Rena duduk di samping gue, bagi gue seorang wanita kalo makan berdua dengan prianya, harus duduk dihadapan prianya itu. kenapa?
biar gue bisa menikmati makanan dan wajah indah seorang wanita itu.
tanpa sadar senyum mungil telah terlukis di wajah gue.

"eh gila! mukamu kenapa? lgi mikirin yang saru ya?"
"iya, sih iya" tanpa sadar gue mengiyakan aja  tanpa tahu pertanyaan apa yang diutarakan.
"ealah? apaa?! ish perv mas perv, bleee" sebuah balasan yang bikin gue bingung dan tambah bingung lagi gue ketika disusul Rena yang menjulurkan lidah dengan ekspresi wajah yang benar-benar anugerah bagi mata gue.

setelah selesai makan kita berbincang dan tertawa dengan biasanya,disusul keheningan yang diisi tepat dengan suara nada dering hape Rena.

setelah baca sms itu, Rena mengangkat kepalanya dan menatap mata gue.
gue tau tatapan mata itu, tatapan mata yang mengutarakan kebingungan dan perasaan bersalah menusuk tepat di kedua pupil mataku yang mengantarnya ke otakku untuk memproses apa yang membuat reaksinya menjadi seperti itu.

"hmm, ehmmmm Ze....." sebuah kalimat bernada lirih yang membuatku sadar seketika.

"ya? Jack ya?"

"iya, aku dipanggil dia. maaf Ze"

"oh... iya hehe" sebuah balasan singkat yang gue tutup dengan tawa palsu yang sepertinya sudah menjadi natural karena latihan tanpa sadar secara berkala yang harus gue lakukan.

"kamu yakin? .... aku....."

"iya."

Rena pun memasukkan perlengkapannya ke tas nya dan berangkat dari meja makan kita, gue yang saat itu bingung tanpa sadar tangan gue menahan lengannya.

"Ze........."

"eh..... hehe" sekali lagi senyum palsu yang gue keluarkan yang menutup dinner kita pada malam itu.

gue masih duduk sendiri.
bengong.
mata gue masih terpaku kepada kursi kosong di depan gue dengan sisa makan dalam piring di depan piring gue.

gue pulang.
gue pulang naik angkot yang pada saat itu memutar lagu 'Tangga - Cinta Begini'.
oh ya, berhubung angkot - angkot di kota gue pada keren - keren dan pada pake audio system pada angkot mereka.
Keren emang, tapi kalimat itu bakalan kalian tarik kembali ketika si supir memutar lagu nya dengan volume max dan bass max, itu emang bikin jengkel. bahkan kalopun mau kentut saat itu, kentut sekuat-kuatnya pun gak akan terdengar orang disampingmu. hanya mungkin bau surganya yang tercium oleh stranger yang siyal nan mengalami bad day berlipat-lipat ganda jika dia mencium bau itu.

setiap detik terasa hampa bagi gue dalam perjalanan pulang ke kost awesome gue.

untung saja mentalitas gue sehat.
mungkin definisi sehat menurut gue dan kalian berbeda. camkan itu.

gue kembali bangun pagi karena alarm dahsyat gue yang sangat 'menyenangkan' setiap pagi.
gue bingung dengan arti kata menyenangkan belakangan ini.
kala itu gue melihat situasi kamar kos gue, dan air mata berlinang di wajah gue.
kenapa gue tidur di tempat penampungan barang hasil pemulung begini ya Tuhan?!
seru gue yang di balas oleh sesosok makhluk penghancur manusia terbang di depan gue.
sebuah, eh seekor maksudnya. seekor makhluk mengerikan berwarna coklat kemerah-merahan dengan antena di kepalanya terbang dengan indahnya di depan mata gue.

yup, ternyata ada seekor roommate gue yang gue gak sadar dia udah tinggal sekamar sama gue.
iya, seekor kecoa. iya, sekamar sama gue. dan mungkin sudah berkeluarga besar di kamar gue.
gue merasa hina.


sesampainya di kampus, gue dikagetkan dengan suara familiar yang seperti pengisi suara dalam animasi terkenal yaitu Transformers. namun suaranya mirip sekali dengan suara Optimus Prime saat berubah menjadi truk gede.
iya, maksud gue suara jett jeett jettt nya.
oh itu sound fx ya?
ya dekat-dekat gitu lah...

"Boneng! woi! woiiiiiii!"

suara mengerikan yang terdengar dari seberang jalan itu, membuat gue memalingkan kepala gue dan terkejut melihat sosok lelaki dengan kulit putih, tangan sebelah panjang sebelah pendek dan menyeberangi jalan dengan mata tertutup.
gue bercanda dengan tangannya lelaki ini.

 setelah gue teliti dengan saksama dengan penuh perhatian, ternyata Bryan.
 iya, si cina pedagang najis yang hilang entah kemana.

"woi muka bangke! kemana aja lu? udah buka toko lu?" seru gue.

"gue berangkat jalan-jalan lintah laknat! baru sampe nih, sementara di jalan gue muntah mendadak liat muka lu. makanya, gue samperin lu." balasnya dengan penuh kasih.

"apa?! gimana usaha rumah jagal lu? udah sukses ekspor kecoa ke asia ya?"

"muka lu gembel. lagi nerusin usaha keluarga gue lah. oh ya, Rena udah mau ultah ya? kita kesana lagi dong.... aseek"

"eh iya yah, gue kelupaan. shieeet!"

"balik lagi deh lu ke rumah penuh 'kenangan' huahahh"

tibat - tiba sendal swallow langsung gue sodorin ke mulut nya Bryan.
dia pingsan sesaat.


setelah reuni akbar yang kita berdua lakukan, kita setuju untuk pergi bareng ke rumahnya Rena sekali lagi. kembali menantang takdir.

disusul suara manis yang selalu gue tunggu-tunggu tengah memanggil nama gue.

"hai cowok, euuh cakep bener euuy. main bareng kita yukk"

dan gubrak! ternyata pendengaran gue yang bermasalah saat gue lihat sosok yang memanggil gue merupakan lelaki setengah siluman titisan dewa lintah.

"gak mbak.. pak.... om... sus......."
currrrr langsung gue mengangkat pantat sexy gue dan berlari sambil menyadari kenajisan yang gue alamin.

tiba-tiba ada suara merdu lagi memanggil gue.
"Ze....."

"hah?! siapa anda?! lelaki produk gagal thailand lagi?!" seru ku dengan refleks tanpa melihat siapa yang memanggil gue.

"gak dudut! ini aku !"

ternyata kali ini produk sukses dari Tuhan yang menyapa gue.
"woalah Rena toh! gue pikir makhluk tadi...."
"kenapa emang? cantik juga kok itu. diembat aja haha"
"muka gila, kan udah  ada yang paling cantik disini .."
"sedeng!"
 "Ze..... nanti tanggal 13 kerumah aku ya.. hehe"
"hah?! ada apaan emang?"
"ada kangkung, ayam bakar , nasi dan segala macam lainnnya."
"oke siap!"

mendengar nama-nama berkah, gue gak pikir panjang lagi.
langsung menyiapkan diri. gue lemah dihadapan nama-nama itu.


empat hari berlalu tanpa terasa bagiku, yup time warping sangat terasa bagi orang yang menjalin hubungan, walaupun bukan hubungan sepasang.
yup, gue memikirkan hal itu ketika mencari pasangan yang tepat bagi jeans gue.

tiiin tiiiinnnnn..
suara klakson yang berbunyi di depan kos gue.
"kayak nya Bryan laknat deh, tapi kok beda ya?" pikirku bingung.
dan benar saat gue jalan ke pelaminan, ups! keluar kos maksudnya. gue melihat sebuah mobil avanza parkir di depan kos gue.

dan gue kaget ternyata Bryan sudah mengendarai mobil avanza.
gak tau udah kelar kredit apa belum.

"woi! bisnis ekspor kecoak lu udah merambah kancah international ya?!"
"matamu!"

yup, cuma itu yang bisa dia katakan ketika itu.
kita berdua pun berangkat kembali ke tempat pertama gue memulai cerita ini.
ke tempat pertama gue bertemu beberapa gadis yang sempat melewati harta batinku.
ke tempat semua berawal.
yang jadi pertanyaanku adalah, akankah menjadi tempat semuanya berakhir juga?
itu yang terus gue pikirin dalam benak gue.
entah antara kekhawatiran atau kenyaman yang tidak pasti.


dan akhirnya kita sampai juga.
kembali ke depan pintu gerbang mewah yang menantang gue untuk masuk kembali dan melihat apa yang ada dibaliknya.

dan yup, gue berjalan dan disekeliling gue dipenuhi oleh berbagai lelaki dan gadis memenuhi tempat itu.
dan kembali lagi gue melihat sosok wajah Tuhan di muka bumi datang mendatangi gue dengan anggunnya, dengan elok nya, dan dengan segala keindahan dirinya.

"masuk yuk. hehe"

kembali lagi malam itu gue mendengar suara yang benar-benar memegahkan suasana.
tanpa sadar aku hanya berjalan saja mengikuti tiap langkah-langkah kaki indah yang menuntunku dengan tangan manis yang sedang memegang erat lenganku.


yang gak gue sadari adalah ketika tangan Rena dengan tiba-tiba melepaskan tangan ku.

sebuah kalimat "kenapa? hah?" itu yang tertumpuk di batin gue namun tak bisa gue ungkapkan.

butuh waktu kurang dari dua detik untuk kepala gue menghadap ke depan dan mata gue tertuju ke seorang lelaki berbadan lebih tinggi beberapa centimeter dari gue dan kulit yang putih, serta sebuah kacamata yang melindungi matanya yang sipit.

Jack.

gue tatap mata jack dan ternyata ada tatapan balik yang gue dapatkan dari dia.
sebuah tatapan yang penuh kecurigaan.
sebuah tatapan yang terisi kecemburuan.

namun tatapan nya berubah saat matanya berpindah dari mata gue ke Rena.
tatapan yang terisi rasa kekaguman dan keindahan yang mengisi matanya.
tatapan yang gue miliki saat gue menatap cermin yang dimana Rena terlintas sejenak di benakku.

namun ternyata Jack masih belum mengetahui hubunganku dengan Rena.
Rena masih belum mengatakan hal ini kepadanya.
entah apakah aku mau hubunganku dan Rena diketahui olehnya atau tidak.
gue bingung.

acara malam itu pun dimulai.

gue mengambil kursi di samping Bryan dan didepannya adalah Jack.
Bryan tak berkata apapun kepadaku kala acara berlangsung.


selama acara berlangsung, Rena duduk di bagian dalam.
tepat di samping kue ulang tahun milikknya.
malam itu kembali lagi ku lihat senyum tulus serta wajah ceria alami yang jarang ditunjukkannya, kembali mendekorasi sosoknya yang menawan.
yang membuat gue mengeluarkan senyum yang baru gue sadari 3 detik kemudian.


kata - kata ucapan terima kasih pun akhirnya diutarakan Rena.
bukan kata - kata yang spesial. hanya kata ucapan biasa.

"makasih, hehe"

kalimat itu yang menutup ibadah malam itu, dan dilanjutkan ramah tamah yang tentunya sudah gue tunggu - tunggu sedari tadi.
perutku menolak untuk bernegosiasi, hatiku menolak menerima kenyataan.
perasaan - perasaan yang bertabrakan menjamuku malam itu.


"hei..."

sambil menepuk pundakku, Jack menegurku.

"yo?" balasku.
"ngomong bisa?" jack menaggapi.

"ok."

kami pun melangkah dari tempat itu.

"kamu, suka sama Rena?" pertanyaan langsung yang diutarakan Jack padaku.
 kujawab dengan anggukan disusul kata "iya" dari bibirku.

"kamu jalan sama dia?" tanya nya lagi yang sekali lagi kujawab dengan anggukan disusul kata "iya".

sepertinya perbincangan antara kedua lelaki dengan sifat yang straightforward berlangsung dengan cepat.

bukk!
tinju kanan Jack melayang ke perut gue.
seketika tangan gue ingin membalas tinju itu, namun tubuh gue gak bisa.
gue tau gue pantas dapetin itu.
dan ternyata sekali saja dia meninju ku.
sepertinya dia juga tahu kalau tinju yang kedua akan membuat tubuh ku membalas serangannya yang bila dilancarkan sekali lagi.


 " kamu tahu itu untuk apa. " kata Jack.
 " memang gue tau, gue tau juga tau kalo gue pantas nerima itu. tapi gue tetap megang Rena "  balasku.

" liat aja nanti "
kalimat Jack itu yang menutup pembicaraan kita dan membuat kita berdua kembali ke arah nya masing-masing.


acara Rena pun selesai dan gue beranjak pergi.
Rena mengantar gue ke pintu depan.
dan sebelum berpisah gue menyelipkan kado kecil ke tangannya.

" kecil aja ya. hehe"

 sebuah kado kecil yang cukup plain.
gue yang masih alay kala itu memberikan kado yang berisi kalung couple dang gue memegang kalung satunya.

gue pun sampai di kost tercinta gue dianterin Bryan yang rela mengantar gue sampe di kos suram ini.

dan sebelum memeluk bantal, gue mendapat sms.
saat gue liat, ternyata dari Rena dengan isi ucapan terima kasih atas kalung yang gue berikan.
 hanya senyum yang gue balas, yang tentu tak tersampaikan padanya.

gue pun kembali ngampus untuk keesokan harinya.
dan ternyata Rena sudah menunggu gue.
dia tersenyum - senyum senang.
 aku masih ingat senyum itu.

dan ternyata kalung yang gue berikan ke Rena malam itu, tergantung di lehernya saat ini.

sayangnya gue tertawa ketika melihatnya.
karena kalung yang gue berikan terlalu panjang dan membuatnya seperti seorang rapper.
dasar begooo ! begoo! gue gak liat ukuran kalungnya. asal ambil aja, gaje amat.

"kepanjangan om! liat nih! wassap yo!" komplain Rena sambil tertawa.

hanya tertawa yang bisa gue berikan ketika itu.

sekitaran 2 minggu pun berlalu. dan gue masih jalan dengan Rena .
masih menjadi orang ketiga.

" kamu maunya gimana? " tanyaku.
" maksudnya? "
" apa kita bakalan begini terus? "
" kamu gak bisa? "
" aku capek Ren. "
" kenapa kamu mau dari awalnya? "
" tapi kan.... masih belum bisa sama Jack? "
" belum... maaf "
" .... " aku hanya bisa terdiam.

sejak saat itu, kita sering berbicara tentang hal ini dan membuat hubungan kita tidak nyaman lagi.
tidak seperti waktu itu.
tak seperti saat Rena membersihkan bibirku dari saos.
tak seperti waktu aku duduk dengan dia diselimuti bintang.
tak lagi gue liat senyum - senyum kecil manis di wajahnya.

hingga sampai pada hari itu.
kala kita bercakap di kampus.

" Ren, jadi gimana? " gue membuka pembicaraan lagi.
" Ze, mungkin aku... gak bisa..."

" hmm. sudah gue duga. "
" kita, sampai disini aja. "

jleb!
kalimat itu menusuk jelas di dada gue.
sejenak otak gue membuat flash back kilat dimana gue mengingat hubungan gue sama Rena yang ditegaskan otak gue kalo itu telah dicap sebagai kenangan mulai saat ini.

" iya , kalo itu maumu. " balasku.

" bye Ze...."

sekitar lima langkah dari gue, Rena berbalik dan berucap

" kalo kamu memang benar - benar sayang sama aku, kamu bakalan nunggu sampe aku benar - benar  sendiri"

dan saat itu juga gue melihat ke lehernya.
kalung gue masih tergantung dengan baiknya di leher Rena.

hanya senyum yang kubalas sembari melihat Rena melangkah pergi.
dan ketika itu juga berbagai rasa yang telah lama terkubur,  seakan bangkit dari kuburannya masing - masing dan memukul gue bertubi - tubi dari segala sisi.

memang perih yang kurasa.
membuat gue berpijak pada lantai kecil kembali yang dinamakan jomblo.

mungkin karena itu juga yang membuatku sangat benci dengan menunggu. menunggu adalah hal yang sangat menyakitkan.
tapi bagiku, jatuh cinta adalah proses penumpukan perih kesakitan yang menunggu untuk menyerangmu , memukulmu , dan mengoyakmu  ketika kata putus diutarakan.
jatuh cinta adalah seperti obat bius yang diberikan saat kamu melakukan operasi. tanpa dirasakan tubuhmu dirobek, dirombak , di gunting, di gergaji.
 namun tanpa merasakan apapun.
 tapi ketika bius itu habis dan kesadaranmu kembali kepada ketidakadilannya  dunia nyata, segala kesakitan yang tertumpuk itu datang menyapamu , memperkenalkanmu kembali kepada dunia.

dan cinta adalah selayaknya Nanas yang memberi asam asin dalam periode biusmu,
juga seperti Martabak yang memberi rasa manis ketika mengenang.

apakah akan terus begitu?
mungkin iya.
tapi mungkin juga akan mengenalkanku pada rasa baru.

sebuah rasa  yang membuat ku jatuh kembali tanpa memperdulikan konsekuensinya.

Lemon Tea.

"eish, bukan urusanmu!" katanya...






END.















 














Thursday, 3 October 2013

Bidang Miring

02:16 Posted by Unknown 1 comment




Sore itu aku kembali ke hadapan laptop ASUS kuno yang membuatku sempat menyesal membeli barang ini sekitar tiga tahun yang lalu. Kenapa? Karena sialnya saat ku beli laptop ini dengan harga yang lumayan dan saat pulang membawanya dengan ceria serasa lesung pipit ku sudah mau tambah sepuluh diwajah, aku dikagetkan gak sampe sebulan sejak pembelian laptop itu dengan keluaran laptop ASUS terbaru dengan spec yang lebih tinggi dan harga yang sama.
f*ck! Pikirku, jerih payahku selama setaun serasa rugi membeli barang ini. Membujuk nangis-nangis di lutut orang tua maksudku.
Oke cukup sampe situ intro gak jelas nya yang sama sekali gak ada kaitannya dengan tulisan ku kali ini. Oh ya, sudahkah kuberitahu tntang kepribadianku? Aku adalah seorang yang bertipe kepribadian ganda! Eh bukan! Maksudku kolerik dengan kombinasi plegmatik. Seorang yang tidak jarang menghina dan mengolok – olok orang lain. Tidak jarang juga karena itu aku cukup sering terlibat perkawinan dengan beberapa temanku. Eh salah lagi ya?! Maksudku perkelahian karena sifatku yang suka bercanda tanpa memperdulikan perasaan orang di sekitarku. Karena itu juga aku paling gak mau di pandang rendah oleh orang lain padahal kerap kali aku sadar tentang kemampuan diriku yang terbatas.
Aku punya teman, seorang lelaki sanguine dengan multi-talenta. Sebut saja dia Bunga. Lah kok bunga sih?! Kan cowok!. Iya karena ingin ku hina dia walau dalam tulisanku. Salah seorang teman baikku semasa lampau, yang kerap beradu mulut denganku. Dia adalah seorang yang memiliki jabatan semasa lalu, dengan kemampuan seni dan music yang luar biasa, kemampuan akademik yang baik, dan kemampuan olahraga yang hebat. Yup! Hebat sekali bukan? *berasa motivator. Sering ku bayangkan ASI macam apa yang dia teguk semasa balita? Atau mungkin sampai sekarang masih meneguk ASI? Hah! Pemikiran macam apa ini!
Kita sering bersaing dalam kemampuan yang tidak lazim, terlalu hina untuk menuliskannya disini.
Karena semua hal yang aneh itupun, namun jauh di batinku *ciee tiba-tiba kena nuklir portable cs6 di kostan oma* dia seorang yang layak untuk dikagumi. Kenapa? Karena its just too difficult to hate him. Kenapa? Entah kenapa dia punya kepribadian yang membuat orang-orang disekitarnya sangat sulit untuk membenci dia, setelah ku amati itu.
Tapi karena sifat kepribadianku yang katakan saja high profile, sulit bagiku untuk mengakuinya, yang membuat ku beranggapan bahwa aku mampu bersaing dengannya, mampu berdiri di pijakan yang sama dengannya. Walaupun pada kenyataannya kita berdiri di bidang miring yang dimana dia berdiri di bagian atas, dan aku di bagian bawah mencoba memanjat ke atas. Tapi aku yakin… aang, bisa menyelamatkan dunia. Eh salah lagi?!! maksudku, mampu berdiri di atas mereka.