Tulisan seadanya kawula muda pengejar mimpi dan jati diri.

Monday, 30 June 2014

Permainan Sederhana

09:58 Posted by Unknown No comments
Reza tersentak kaget ketika tidur malamnya terhenti di tengah jalan. Seorang lelaki yang terjebak dalam cemoohan kumpulan manusia dan wanita yang menangis adalah alasan Reza tersentak dari tempat tidurnya.

“itu apa? Siapa?!” hanya itu yang keluar dari mulut Reza.
Reza menggaruk – garuk kepalanya. Berusaha mengingat cerita dari mimpi itu. Entah mengapa semua orang yang ada dalam mimpinya itu berasa sangat familiar, namun terlupakan begitu saja seakan menghilang bersama sentakan tubuh Reza dari tempat tidurnya.


“ah, ingin sekali ku mengetahuinya. Kenapa tak mampu teringat olehku?”
Mengapa Reza berusaha keras untuk mengingatnya?
Ternyata mimpi yang dialami Reza adalah mimpi yang mirip dengan tiga hari sebelumnya. Hanya saja anehnya mimpi itu bersambung malam demi malam walaupun ceritanya samar langsung terlupakan sekali Reza bangun dari cerita alam bawah sadarnya tersebut.
“Lupakanlah.” Gumam Reza pelan.

==

Reza mulai bersiap ke kampus. Gerah sekali baginya mengenakan celana panjang.

Ia membenci celana panjang.

 Ingin sekali baginya pergi kuliah menggunakan celana pendek layaknya anak – anak elektro universitasnya. Tapi sayang, tak semudah yang diharapkan.
Jika Reza melakukan demikian, jari telunjuk nya dosen yang menunjuk ke arah pintu kelas lah yang akan ia temui kala dia bertemu dengan dosen.
“Silahkan anda keluar, ganti celana anda. Dan mungkin saya akan mengijinkan anda masuk kelas”
Perkataan itu adalah mimpi buruk bagi Reza.
==

Hari yang seperti biasanya itu dimeriahkan oleh gadis – gadis cantik yang berada di kelas Reza karena didominasi oleh anak – anak ekonomi. Sedangkan Reza nyasar sebagai anak TI bersama pasukan super minoritas yang hanya beberapa biji saja.


“ndes, noh “ signal Reza ke Cahyo dengan mata penuh kemesuman.

Reza merupakan lelaki normal dengan kemampuan scan mata terhadap wanita – wanita ‘gemes’ yang sangat tinggi. Apalagi ketika gadis – gadis tersebut menggunakan celana yang dijulukinya celana ‘gemes’.
 Mata Reza menyala merah keemasan, kepalanya bergemuruh.

Namun, ada yang aneh dengan Reza.

Tak ada satu pun dari mereka yang menarik baginya. Ngegemesin sih iya.
Seringkali kawannya mengatakan jika Reza adalah seorang yang tak berperasaan.
Hanya senyum yang mampu dilontarkan sebagai balasan kepada kawannya itu.
Reza memiliki perasaan yang beku sejak lama yang hanya sedikit saja yang mampu melelehkan es tersebut, walaupun bersifat sementara.

==

Suatu saat ia diperkenalkan dengan beberapa kawan baru yang ia temui lewat salah satu kawannya.
Anehnya , terdapat satu gadis yang menarik perhatiannya.
Seorang gadis yang bisa dikatakan cukup nakal namun berusaha menapaki jalan yang dianggapnya benar.
Baru kali ini Reza tertarik dengan gadis seperti itu.
Nia.


==

“Lagi dimana?”
“PING!” pesan bbm tiba – tiba masuk ke henfon Reza.

“kos.” Balas Reza.

“ayo kesini, kumpul minum susu”

“minum susu? Lah susumu gimana toh? Memangnya kurang?” balas Reza dengan sopan.

“minum susu bego! Datang sudah!”

“ho”


Sebab kebosanan melanda Reza kala itu, bersiaplah dia untuk datang kumpul minum susu Nia. Eh, minum susu bersama Nia maksudnya.
Tanpa Reza sadari sejak malam itu, hubungan mereka berdua semakin dekat.

Mereka teman dekat sekarang.

Suatu kali Reza dan Nia saling chattingan hingga Reza tak sengaja mengeluarkan gombalan – gombalan basi nya karena iseng.
Dan terkejutnya Reza ketika Nia memberikan umpan balik kepadanya.

Sebuah istilah Teman dekat kini berubah menjadi Teman tapi mesra.

==

PING!!
PING!!
“kamu dimana?”
PING!!

Tiba – tiba celana Reza dipenuhi getaran yang menggetarkan seluruh sukma tubuhnya.

“Di kos! Pung ping pang pung!”

“ke kos dong, aku kesepian nih, belai aku!”

Melihat tulisan pesan seperti itu, dalam kurun waktu kurang dari 5 menit Reza langsung bersiap dan beranjak ke kosnya Nia.
Hanya untuk mendapatkan kekecawaan besar.
di kosnya didapati empat kawan mereka berdua mengemis – ngemis hendak disuapi martabak.

“bangsat!” pikirnya.
Dibalas senyuman licik Nia.

“Beliin martabak gih! Kamu berdua bareng Nia sono!” seru Yano, salah satu teman autis mereka.

Reza dan Nia pun beranjak dengan motor menuju tempat martabak.
Sebuah perbincangan konyol terjadi malam itu.

“tempatnya dimana tante?”

“dihatimu sayang” balas Nia lirih.

“kau tahu kalau disitu selalu menjadi tempatku berteduh, tempat sukma ku bermandikan kasihmu. Tempat jiwaku tersesat.”

“iya, ragamu saja yang kerap menggantungku. aku sudah menunggu”

Reza terdiam.
Baru kali ini ia mendengar jawaban seperti itu dari Nia.
Kali ini dia bingung untuk membalas. Hanya tawa kecil yang Reza keluarkan untuk memecahkan situasi yang canggung itu.

Reza masih mendapati bahwa perasaannya masih beku.
Bukan Dia orangnya.
Baginya, Nia baru saja menekan tombol start untuk bergabung dengan permainan yang ia mainkan.
Menjadi player 2 pada permainan ini.
Reza masih bermain, dia sangat menikmati permainan flirting.
Namun mimpi yang waktu itu masih mengganggu nya, apakah itu kisah masa lalu ataukah suatu cerita yang ingin diceritrakan kepadanya?

“Masa bodoh dengan itu, aku ingin bermain sampai ku puas!” pikir Reza, membulatkan pilihannya.

Reza adalah lelaki yang sangat mencintai permainan. Permainan apapun itu ingin dimainkannya,
Baginya, flirting pun adalah sebuah permainan, dan permainan yang paling mengasyikkan di dunia nyata untuknya.
Peraturannya sederhana.


Siapapun yang jatuh duluan menjadi pihak yang kalah!

0 comments:

Post a Comment