Reza tersentak kaget
ketika tidur malamnya terhenti di tengah jalan. Seorang lelaki yang terjebak
dalam cemoohan kumpulan manusia dan wanita yang menangis adalah alasan Reza
tersentak dari tempat tidurnya.
“itu apa? Siapa?!” hanya
itu yang keluar dari mulut Reza.
Reza menggaruk – garuk kepalanya.
Berusaha mengingat cerita dari mimpi itu. Entah mengapa semua orang yang ada
dalam mimpinya itu berasa sangat familiar, namun terlupakan begitu saja seakan
menghilang bersama sentakan tubuh Reza dari tempat tidurnya.
“ah, ingin sekali ku
mengetahuinya. Kenapa tak mampu teringat olehku?”
Mengapa Reza berusaha
keras untuk mengingatnya?
Ternyata mimpi yang
dialami Reza adalah mimpi yang mirip dengan tiga hari sebelumnya. Hanya saja
anehnya mimpi itu bersambung malam demi malam walaupun ceritanya samar langsung
terlupakan sekali Reza bangun dari cerita alam bawah sadarnya tersebut.
“Lupakanlah.” Gumam Reza
pelan.
==
Reza mulai bersiap ke
kampus. Gerah sekali baginya mengenakan celana panjang.
Ia membenci celana
panjang.
Ingin sekali baginya pergi kuliah menggunakan
celana pendek layaknya anak – anak elektro universitasnya. Tapi sayang, tak
semudah yang diharapkan.
Jika Reza melakukan
demikian, jari telunjuk nya dosen yang menunjuk ke arah pintu kelas lah yang
akan ia temui kala dia bertemu dengan dosen.
“Silahkan anda keluar,
ganti celana anda. Dan mungkin saya akan mengijinkan anda masuk kelas”
Perkataan itu adalah
mimpi buruk bagi Reza.
==
Hari yang seperti
biasanya itu dimeriahkan oleh gadis – gadis cantik yang berada di kelas Reza
karena didominasi oleh anak – anak ekonomi. Sedangkan Reza nyasar sebagai anak
TI bersama pasukan super minoritas yang hanya beberapa biji saja.
“ndes, noh “ signal Reza
ke Cahyo dengan mata penuh kemesuman.
Reza merupakan lelaki
normal dengan kemampuan scan mata terhadap wanita – wanita ‘gemes’ yang sangat
tinggi. Apalagi ketika gadis – gadis tersebut menggunakan celana yang
dijulukinya celana ‘gemes’.
Mata Reza menyala merah keemasan, kepalanya
bergemuruh.
Namun, ada yang aneh
dengan Reza.
Tak ada satu pun dari
mereka yang menarik baginya. Ngegemesin sih iya.
Seringkali kawannya
mengatakan jika Reza adalah seorang yang tak berperasaan.
Hanya senyum yang mampu
dilontarkan sebagai balasan kepada kawannya itu.
Reza memiliki perasaan
yang beku sejak lama yang hanya sedikit saja yang mampu melelehkan es tersebut,
walaupun bersifat sementara.
==
Suatu saat ia
diperkenalkan dengan beberapa kawan baru yang ia temui lewat salah satu
kawannya.
Anehnya , terdapat satu
gadis yang menarik perhatiannya.
Seorang gadis yang bisa
dikatakan cukup nakal namun berusaha menapaki jalan yang dianggapnya benar.
Baru kali ini Reza
tertarik dengan gadis seperti itu.
Nia.
==
“Lagi dimana?”
“PING!” pesan bbm tiba –
tiba masuk ke henfon Reza.
“kos.” Balas Reza.
“ayo kesini, kumpul minum
susu”
“minum susu? Lah susumu
gimana toh? Memangnya kurang?” balas Reza dengan sopan.
“minum susu bego! Datang sudah!”
“ho”
Sebab kebosanan melanda
Reza kala itu, bersiaplah dia untuk datang kumpul minum susu Nia. Eh, minum
susu bersama Nia maksudnya.
Tanpa Reza sadari sejak
malam itu, hubungan mereka berdua semakin dekat.
Mereka teman dekat
sekarang.
Suatu kali Reza dan Nia
saling chattingan hingga Reza tak sengaja mengeluarkan gombalan – gombalan basi
nya karena iseng.
Dan terkejutnya Reza
ketika Nia memberikan umpan balik kepadanya.
Sebuah istilah Teman
dekat kini berubah menjadi Teman tapi mesra.
==
“PING!!”
“PING!!”
“kamu dimana?”
“PING!!”
Tiba – tiba celana Reza
dipenuhi getaran yang menggetarkan seluruh sukma tubuhnya.
“Di kos! Pung ping pang
pung!”
“ke kos dong, aku
kesepian nih, belai aku!”
Melihat tulisan pesan
seperti itu, dalam kurun waktu kurang dari 5 menit Reza langsung bersiap dan
beranjak ke kosnya Nia.
Hanya untuk mendapatkan
kekecawaan besar.
di kosnya didapati empat
kawan mereka berdua mengemis – ngemis hendak disuapi martabak.
“bangsat!” pikirnya.
Dibalas senyuman licik
Nia.
“Beliin martabak gih! Kamu
berdua bareng Nia sono!” seru Yano, salah satu teman autis mereka.
Reza dan Nia pun beranjak
dengan motor menuju tempat martabak.
Sebuah perbincangan
konyol terjadi malam itu.
“tempatnya dimana tante?”
“dihatimu sayang” balas
Nia lirih.
“kau tahu kalau disitu
selalu menjadi tempatku berteduh, tempat sukma ku bermandikan kasihmu. Tempat jiwaku
tersesat.”
“iya, ragamu saja yang
kerap menggantungku. aku sudah menunggu”
Reza terdiam.
Baru kali ini ia
mendengar jawaban seperti itu dari Nia.
Kali ini dia bingung
untuk membalas. Hanya tawa kecil yang Reza keluarkan untuk memecahkan situasi
yang canggung itu.
Reza masih mendapati
bahwa perasaannya masih beku.
Bukan Dia orangnya.
Baginya, Nia baru saja
menekan tombol start untuk bergabung dengan permainan yang ia mainkan.
Menjadi player 2 pada
permainan ini.
Reza masih bermain, dia
sangat menikmati permainan flirting.
Namun mimpi yang waktu
itu masih mengganggu nya, apakah itu kisah masa lalu ataukah suatu cerita yang
ingin diceritrakan kepadanya?
“Masa bodoh dengan itu,
aku ingin bermain sampai ku puas!” pikir Reza, membulatkan pilihannya.
Reza adalah lelaki yang
sangat mencintai permainan. Permainan apapun itu ingin dimainkannya,
Baginya, flirting pun
adalah sebuah permainan, dan permainan yang paling mengasyikkan di dunia nyata
untuknya.
Peraturannya sederhana.
Siapapun yang jatuh
duluan menjadi pihak yang kalah!
0 comments:
Post a Comment